BAB III
LANDASAN TEORI
3.1 Perancangan
Perancangan
menurut Suryanto (2004, 8), “Perancangan adalah proses, cara, perbuatan
merancang”. Perancangan berasal dari kata asing yaitu design. Definisi desain menurut Laksana dan Suryawan (2004, 8) yang
telah dikemukakan, antara lain:
1.
Cabang seni rupa yang memiliki
keterkaitan dengan nilai keindahan dan aplikatif.
2.
Sebagai verb atau kata kerja : proses perancangan atau menyusun unsur-unsur
seni rupa menjadi suatu bentuk komposisi yang estetis.
3.
Desain dikatakan hasil rancangan
atau proses merancang unsure-unsur seni rupa dengan memadukan aspek teknologi,
ilmu pengetahuan atau informasi, berdasarkan dari asas seni rupa untuk
menghasilkan komposisi yang indah dan fungsional.
4.
Proses mencipta rupa untuk maksud
tertentu.
3.2 Aspek-aspek Desain dalam Perancangan
Aspek-aspek yang digunakan dalam
proses perancangan ialah sebagai berikut:
1.
Ilustrasi
Ilustrasi
menurut (Pujiriyanto, 2005, 40) definisinya adalah seni gambar yang
dimanfaatkan untuk member penjelasan atas suatu maksud atau tujuan secara
visual. Dalam perkembangannya, ilustrasi secara lebih lanjut ternyata tidak
hanya berguna sebagai saran pendukung cerita, tetapi dapat juga menghiasi ruang
kosong. Misalnya dalam majalah, koran tabloid, dan lain-lain. Ilustrasi bisa
berbentuk macam-macam, seperti karya seni sketsa, lukis, grafis, karikatural,
dan akhir-akhir ini bahkan banyak dipakai image
bitmap hingga karya foto. Ilustrasi digunakan untuk membantu
mengkomunikasikan pesan dengan cepat, tepat, tegas, dan merupakan terjemahan
dari sebuah judul. Keberadaan ilustrasi diharapkan bisa membentuk suatu suasana
penuh emosi dan menjadikan seakan-akan gagasan itu nyata. Ilustrasi sebagai
gamabaran pesan yang tidak terbaca, namun bisa mengurai cerita, berupa gambar
dan tulisan yaitu bentuk grafis informasi yang memikat. Dengan ilustrasi
diharapakan media menjadi lebih berkesan, karena pembaca akan lebih mudah
mengingat gagasan dari pada kata-kata. Ilustrasi merupakan unsure grafis yang
paling vital dan dapat disajikan mulai dari goresan atau titik sederhana sampai
dengan kompleks. Ilustrasi berfungsi antara lain untuk menarik perhatian,
meransang minat pembaca terhadap keseluruhan pesan, memberikan eksplanasi atas
pernyataan, menonjolkan keistimewaan dari produk, memenangkan persaingan,
menciptakan suasana khas, dramatisasi pesan, menunjukkan suatu merk atau
semboyan, dan mendukung judul iklan. Ilustrasi jika dilihat dari segi teknisnya
dapat digolongkan menjadi beberapa teknik, yaitu:
a.
Ilustrasi Gambar Tangan (Hand Drawing)
Ilustrasi
ini dibuat secara keseluruhan menggunakan tangan dengan memberikan ekspresi dan
karakter tertentu untuk mendukung media komunikasi grafis yang dibuat, seperti
iklan, poster, baliho, dan yang lainnya (Pujiriyanto, 2005, 41).
b.
Ilustrasi fotografi
Ilustrasi
ini dihasilkan dengan teknik fotografi menggunakan kamera, baik manual maupun
digital memungkinkan adanya pengolahan lebih lanjut, lansung tanpa scanning di
komputer untuk memberikan ekspresi ataupun ilustrasi tertentu sesuai keinginan.
Objek fotografi menjadi lebih realistis, esklusif, dan persuasive (Pujiriyanto,
2005, 42).
c.
Teknik gabungan
Ilustrasi
bentuk komunikasi dengan struktur visual atau rupa yang terwujud dari perpaduan
antara teknik fotografi dengan teknik olah digital di komputer (Pujiriyanto,
2005, 43).
2.
Tipografi
Kata
tipografi berasal dari bahasa latin yaitu terdiri dari kata typos dan graphia. Typos artinya
cetakan bentuk dan sejenisnya, sedangkan graphia
artinya hal tentang seni tulisan. Secara umum tipografi diartikan seni
mencetak dengan menggunakan huruf, seni menyusun huruf dan cetakan dari huruf
atau penyusunan bentuk dengan gaya-gaya huruf. Tipografi lebih dari sepuluh
ribu berlaku secara internasional dan sudah dibakukan (Kusrianto, 2007, 54).
Tipografi sama dengan menata huruf yang merupakan unsure penting dalam sebuah
karya desain komunikasi visual untuk mendukung terciptanya kesesuaian antara
konsep dan komposisi karya. Saat ini tipografi sudah mengalami perkembangan
dari fase penciptaan dengan tangan (hand
draw) hingga mengalami komputerisasi. Fase komputerisasi membuat penggunaan
tipografi menjadi lebih mudah dan dalam jangka waktu yang lebih cepat dengan
jenis pilihan huruf yang ratusan jumlahnya. Setiap bentuk huruf dalam sebuah
alphabet memiliki keunikan fisik yang menyebabkan mata kita dapat membedakan
antara huruf m dengan p atau c dengan q. Keunikan ini disebabkan oleh cara mata
kita melihat korelasi antara komponen visual yang satu dengan yang lain.
Sekelompok pakar psikologi dari Jerman dan Austria pada tahun 1900
memformulsikan sebuah teori yang dikenal dengan teori Gestalt. Teori ini berbasis pada pattern seeking dalam perilaku manusia. Setiap bagian dari sebuah
gambar dapat di analisis dan di evaluasi sebagai komponen yang berbeda. Salah
satu hokum persepsi dan teori inimembuktikan bahwa untuk mengenal atau membaca
sebuah gambar diperlukan adanya kontras antara ruang positif yang disebut
dengan figure dan ruang negative yang
disebut dengan ground. Berdasarkan
klasifikasi yang dilakukan oleh James Craig, jenis huruf dibedakan menjadi
lima, yaitu:
a.
Huruf berkait (Serif)
Bentuk
huruf yang memiliki kait dengan ketebalan yang kontras. Jenis huruf typefaces dengan stroke menghiasi jenis huruf ini. Jenis ini merupakan huruf yang
formal. Serif mengekspresikan organisai yang intelektualitas dan bentuknya
sangat anggun dan konservatif (Pujiriyanto, 2005, 56).
b.
Huruf tidak berkait (Sans serif)
Bentuk
huruf yang tidak memiliki kait, bertangkai tebal, sedrhana, dan mufah dibaca.
Ciri lain jenis huruf ini adalah tidak memiliki stroke atau ekor. Ujungnya bisa berbentuk tumpul (rounded corner) atau tajam. Sifat huruf
ini adalah hangat dan berhasabat (Pujiriyanto, 2005, 57). Berdasarkan cirri
yang dimiliki sifat huruf ini kurang formal dan kesan yang ditimbulkan dari
jenis huruf ini adalah modern, kontemporer, dan efisien.
c.
Huruf tulis atau latin (Script)
Jenis
huruf yang merupakan dasar dari bentuk huruf yang ditulis dengan tangan,
kontras tebal, dan tipisnya sedikit saling berhubungan dan mengalir. Kesan yang
ditimbulkan adalah kesan keanggunan dan sentuhan pribadi (Pujiriyanto, 2005,
58).
d.
Huruf dekoratif
Bentuk
huruf yang rumit sehingga jenis huruf ini hanya cocok dipakai untuk headline. Dapat membuat efek respon yang
berbeda (Pujiriyanto, 2005, 60).
e.
Huruf Monospace
Jenis
huruf yang memiliki jarak atau lebar yang sama di setiap hurufnya. Huruf W dan
I memiliki ruang yang sama. Huruf pada mesin ketik juga merupakan huruf
monospace. Banyak digunakan oleh programmer untuk coding dan performatted text (Pujiriyanto, 2005, 61).
3.
Teks
Sederetan
kata atau kalimat yang menjelaskan suatu barang atau jasa untuk tujuan
tertentu. Bahasa yang digunakan penyusunan teks pada iklan hendaknya sederhana,
jelas, singkat, dan tepat serta memiliki daya tarik pada kalimatnya (Ananda,
1978, 63).
Teks
merupakan kata-kata yang terdapat pada buku atau iklan. Teks dituntut agar
mampu menggugah, menarik mengidahkan, mengidentifikasi, menggalang kebersamaan,
dan mengkomunikasikan pesan dengan nilai komparatif kepada khalayak. Teks
dibagi dalam beberapa sistem penamaan dan masing-masing memiliki fungsi
berbeda, yaitu:
a.
Judul (Headline / Headling)
Teks
yang letaknya paling atas pada sebuah iklan, dengan ukuran huruf paling besar
antara yang lainnya dan biasanya untuk menyampaikan pesan yang paling penting
(Santosa, 2002, 54). Judul hendaknya ekspresif, mempertegas kata-kata yang
singkat dan berfungsi untuk mengkombinasikan watak sebuah tulisan. Hal-hal yang
perlu diperhatikan dalam mendesain judul menurut (Pujiriyanto, 2005, 38), yaitu:
1.
Bentuk huruf mendukung judul dan memancarkan watak tulisan.
2.
Judul kontras dengan teks yang
lainnya baik dari segi warna, ukuran, dan bentuk.
3.
Ditempatkan dalam frame atau bingkai.
4.
Kata tidak terlalu panjang dan
mudah dibaca.
5.
Judul sebaiknya diposisikan di
tengah-tengah.
6.
Hindari judul dengan pemakaian
huruf capital semua.
7.
Bentul visualisasi menunjang isi
pesan seirama dengan isi dan maksud.
b.
Sub judul (Sub Headline)
Sub
judul berfungsi untuk melengkapi serta memperjelas pengertian headline dan untuk membagi serta sebagai
penyela teks berikutnya. Biasanya ukuran lebih kecil dari pada judul dengan
warna yang berbeda pula. Sub judul dapat juga disebut sebagi kalimat peralihan
yang mengarahkan pembaca dari judul ke kalimat pembuka dari naskah (body copy) (Pujiriyanto, 2005, 40). Hal
yang perlu diperhatikan dalam mendesain sub judul, yaitu:
1.
Sub judul serasi dan saling
mendukung dengan judulnya.
2.
Hindari penempatan dibawah kolom.
3.
Jangan berlebih menggunakan
materi visual, sesuaikan jenis huruf dengan judul dan teks isinya.
4.
Gunakan tipe huruf yang kontars,
misalnya tipe huruf sans serif.
5.
Gaya dan ukuran huruf pada
artikel dapat dideformasi dengan memiringkan atau memperbesar 1-3 kali.
6.
Sub judul dapat ditulis dengan
lekukan atau indent dengan posisi
sebelah kiri.
7.
Gunakan garis bawah atau diatas
sub judul untuk kejelasan atau buatkan frame.
8.
Gunakan warna berbeda dengan
warna artikel.
9.
Tempatkan di kolom terpisah di
samping atas, jangan dibawah artikel.
10.
Susun unsure-unsur dengan posisi,
proporsi, irama, latar belakang, pilihan.
c.
Teks isi (body copy)
Digunakan
untuk menerangkan produk atau maksud secara detail, lebih detail dari pada
judul atau sub judul dan menjelaskan kandungan dalam prosuk. Isi pesan yang
ingin disampaikan berfungsi untuk mengarahkan pembaca dalam mengambil sikap,
berfikir, dan bertindak lebih lanjut. Naskah yang kreatif dapat menampilkan
fakta-fakta, bagan, daya tarik dari hal yang menyenangkan atau menggelisahkan
(Pujiriyanto, 2005, 41).
d.
Kata penutup (Closing word)
Kalimat
pendek yang jelas, singkat, jujur, dan jernih yang bertujuan untuk mengarahkan
pembaca untuk membuat keputusan (Pujiriyanto, 2005, 43).
4.
Warna
Warna
merupakan getaran atau gelombang yang diterima indera penglihatan. Secara
objektif atau fisik warna juga didefinisikan sebagai sifat cahaya yang
dipancarkan atau secara subjektif atau fisikologis sebagai bagian dari
pengalaman indera penglihatan (Sanyoto, 2005, 9). Warna akan dapat membuat
kesan atau mood untuk keseluruhan gambar atau grafis. Setiap warna memiliki
daya tarik yang berbeda dan dalam penggunaannya diharapkan dapat menciptakan
keserasian dan membangkitkan emosi.
Secara
subjektif atau psikologis penampilan warna dapat di kategorikan ke dalam tiga
dimensi warna yang sangat besar pengaruhnya terhadap tata rupa, yaitu hue, value,
dan chroma. Hue adalah rona atau corak warna yaitu dimensi mengenai klasifikasi
warna, nama warna, dan jenis warna. Value
adalah tone warna yaitu dimensi terang-gelap warna atau tua-muda warna,
disebut pula “ke-terang-an” warna (brighness).
Chroma adalah intensitas, yaitu
dimensi tentang cerah-redup warna, cemerlang-suram warna, murni-kotor warna,
disebut pula penyerapan warna (saturation).
Sedangkan menurut Kusrianto (2007 46) warna merupakan pelengkap gambar serta
mewakili suasana kejiwaan pelukisnya dalam berkomunikasi. Warna juga merupakan
unsur yang sangat tajam untuk menyentuh kepekaan penglihatan sehingga mampu
merangsang munculnya rasa haru, sedih, gembira, mood atau semangat dan lain-lain.
Terdapat
lima klasifikasi warna yaitu warna primer, sekunder, intermediate, tersier, dan
warna kuarter (Sanyoto, 2005, 19).
1.
Warna Primer
Warna
primer disebut warna pertama atau warna pokok. Disebut warna primer karena
warna tersebut tidak dapat dibentuk dari warna lain dan disebut warna pokok
karena warna tersebut dapat digunakan sebagai pokok pencampuran untuk
memperoleh warna-warna lain. Nama-nama warna primer tersebut, adalah:
a.
Biru, nama warna sebenarnya
adalah sian (cyan), yaitu biru semu
hijau. Warna cyan yang sebenarnya
terdapat pada warna bahan tinta cetak.
b.
Merah, nama sebenarnya magenta,
yaitu warna merah semu ungu. Warna magenta sebenarnya terdapat pada warna bahan
tinta cetak.
c.
Kuning, dalam tube cat disebut lemon yellow, dalam tinta cetak disebut yellow.
2.
Warna Sekunder
Warna
sekunder atau disebut warna kedua adalah warna jadian dari pencampuran dua
warna primer (pokok atau warna pertama). Nama-nama warna sekunder adalah:
a.
Jingga (Orange), adalah hasil pencampuran warna merah dan kuning.
b.
Ungu (Violet), adalah hasil pencampuran warna merah dan biru.
c.
Hijau (Green), adalah hasil pencampuran warna kuning dan biru.
3.
Warna Intermediate
Warna
intermediate adalah warna perantara,
yaitu warna yang ada diantara warna primer dan warna sekunder pada lingkaran
warna. Nama-nama warna intermediate adalah:
a.
Kuning hijau (sejenis moon green), yaitu warna yang ada
diantara kuning dan hijau.
b.
Kuning jingga (sejenis deep yellow), yaitu warna yang ada
diantara kuning dan jingga.
c.
Merah jingga (red/vermilion), yaitu warna yang ada
diantara merah dan jingga.
d.
Merah ungu (purple), yaitu warna yang ada diantara merah dan ungu atau violet.
e.
Biru violet (sejenis blue/indigo),
yaitu warna yang ada diantara biru dan ungu/violet.
f.
Biru hijau (sejenis sea green), yaitu warna yang ada
diantara biru dan hijau.
4.
Warna Tersier
Warna
tersier atau warna ketiga adalah warna hasil percampuran dari dua warna
sekunder atau warna kedua. Nama-nama warna tersier adalah:
a.
Coklat kuning, disebut sicna
mentah, kuning tersier, yellow ochre,
atau olive, yaitu pencampuran warna
jingga dan hijau.
b.
Coklat merah, disebut juga sicna
bakar, merah tersier, burn sicna, atau
red brown, yaitu pencampuran warna
jingga dan ungu.
c.
Coklat biru, disebut juga sicna sepia, biru tersier, zaitun, atau navy blue, yaitu pencampuran warna hijau
dan ungu.
5.
Warna Kuarter
Warna
kuarter atau warna ke empat, yaitu warna hasil pencampuran dari dua warna
tersier atau warna ketiga. Nama-nama warna kuarter adalah:
a.
Coklat jingga (jingga/orange kuarter) atau semacam brown adalah hasil pencampuran kuning
tersier dan merah tersier.
b.
Coklat hijau (hijau kuarter) atau
semacam moss green adalah hasil
pencampuran biru tersier dan kuning tersier.
c.
Coklat ungu (ungu/violet kuarter) atau semacam deep purple adalah hasil pencampuran
merah tersier dan biru tersier.
Selanjutnya
adalah kombinasi warna. Kombinasi warna dilakukan untuk menghasilkan efek
tertentu yang di inginkan. Caranya adalah dengan membuat lingkaran warna khusus
dengan memasukkan unsur-unsur value
(gelap-terang), temperature (hangat-dingin),
dan intensitas (cerah-pucat) atau kombinasi warna-warna gelap (dark value) dan pekat (high-intensity) serta yang lainnya.
Beberapa kombinasi warna yaitu
sebagai berikut:
a.
Kombinasi Monokromatik
Paduan warna
monokromatis dapat menciptakan kesan tenang, anggun, dan elegan. Kuncinya
adalah dengan menggunakan warna yang memiliki value serta intensitas dan sedikit gradasi. Warna-warna netral bisa
menjadi aksen yang menarik. Misalnya penggunaan warna dasar abu-abu, lalu
ditambah dengan warna netral lainnya sebagai aksen.
b.
Kombinasi Analog
Analog sering
disebut juga warna senada, yaitu penggunaan warna yang bersebelahan pada
lingkaran warna. Misalnya merah-merah orange,
biru-biru violet.
c.
Kombinasi Komplementer
Komplementer
adalah warna-warna yang saling melengkapi. Kombinasi warna ini terbentuk dari
warna-warna yang berlawanan dan berseberangan dalam lingkaran warna. Kesan yang
ditimbulkan dari warna komplementer adalah menggairahkan, hangat. Misalnya
merah dengan hijau, kuning dengan orange dan biru dengan violet.
d.
Kombinasi Kompleks
Kombinasi ini
terdiri dari warna apa saja yang ada di lingkaran warna. Merah, hijau, kuning, orange, dan lainnya. Kesan yang
ditimbulkan adalah menggembirakan, sebab secara otomatis warna-warna ini akan
saling menyeimbangkan temperatur warna dalam mata.
5.
Teori Layout
Menurut Ambrose dan Harris
(2005, 11) Layout adalah penyusunan
dari elemen-elemen desain yang berhubungan ke dalam sebuah bidang sehingga
membentuk susunan artistik.Hal ini bisa juga disebut manajemen bentuk dan
bidang. Tujuan utama layout adalah menampilkan elemen gambar dan teks agar
menjadi komunikatif dalam sebuah cara yang dapat mempermudah pembaca menerima
informasi disajikan. Prinsip Layout menurut Lincy dalam Kusrianto (2007, 277)
ada 5 buah prinsip utama dalam desain yaitu :
a.
Proporsi
Kesesuain antara ukuran
halaman dengan isinya. Dalam dunia tata layout,
dikenal ukuran kertas atau bidang kerja yang paling populer, yaitu yang dikenal dengan
ukuran letter, 8,5” x 11”.
b.
Keseimbangan (Balancing)
Merupakan suatu pengaturan
agar penempatan elemen dalam suatu halaman memiliki efek seimbang.Terdapat dua
macam keseimbangan, yaitu keseimbangan formal atau simetris dan informal/asimetris.
c.
Kontras (fokus)
Fokus merupakan pengatur
elemen-elemen desain yang dapat memberikan perhatian yang memusat pada salah
satu obyek.Fokus atau pusat perhatian selalu diperlukan dalam suatu komposisi
untuk menunjukkan bagian yang penting dan diharapkan menjadi perhatian
utama.Penjagaan keharmonisan dalam membuat suatu fokus dilakukan dengan
menjadikan segala sesuatu yang berada di sekitar fokus mendukung fokus yang
telah ditentukan.
d.
Irama
Irama atau ritme adalah
penyusunan unsur-unsur dengan mengikuti suatu pola penatahan tertentu secara
teratur agar didapatkan kesan yang menarik.
e.
Unity
Merupakan hubungan antara
elemen-elemen desain yang semula berdiri sendiri serta memiliki ciri khas yang
disatukan menjadi suatu yang baru dan memiliki fungsi baru yang utuh. Dasar
bangunan bidang-bidang atau blok dalam suatu halaman cetak secara umum dapat
dibagi menjadi empat elemen, yaitu headlines, teks, gambar, dan yang tidak
kalah pentingnya adalah bidang kosong (Kusrianto, 2007, 288).Menurut Kursrianto
(2007, 289), menunjukan sembilan macam kemungkinan
tampilan layout halaman, yaitu:
1.
Style Conventional
Menampilkan kesan padat
dengan pilihan teks yang berat, headlines
diletakkan
disebelah kiri, sedangkan gambar diletakkan di bawah.Style ini terkesan sederhana dan
formal.Publikasi-publikasi yang bersifat resmi masih sering menggunakan style ini.
2.
Style Classic
Memberikan kesan yang sederhana,
dimana teks dibagi menjadi dua kolom di setiap halaman.Headlines diletakkan di tengah atas dan gambar
atau foto diletakkan di tengah halaman, di antara dua kolom teks.
3.
Style Modern
Style ini
menggunakan susunan teks melebar, dimana cukup ada satu kolom pada satu
halaman.Oleh karena itu, dipergunakan leading (jarak antar baris) yang lebih
lebar.Demikian juga jarak antara karakter yang dilonggarkan untuk memudahkan
pembaca. Headlines pun diatur dengan style berjarak karakter lebar bahkan
ekstra lebar jika perlu. Gambar dimuat dalam dua halaman dengan posisi yang
berlawanan di bagian tengah masing-masing halaman.
4.
Style Technical
Bentuk layout yang menampakan gaya teknis dengan blok-blok berbentuk siku
dengan garis antara kolom. Digunakan banyak bidang kosong untuk memberikan
kesan yang bersih dan kuat.Bidang-bidang yang berisi teks maupun gambar
diletakan secara simetris.
5.
Style Aggresive
Headlines dengan
teks berukuran besar dan bergaris bawah serta menggunakan jarak antar baris
yang lebih lebar.Gambar dimuat disisi-sisi halaman dengan membentuk garis
horizontal, yang tampil secara ekslusif dan berperan sebagai ilustrasi atau
sekedar dekorasi ruangan.
6.
Style Juvenline
Juvenline adalah
istilah buku untuk anak-anak, walaupun style ini tidak dimaksudkan untuk
anak-anak.Layout dibuat dengan kesan
meriah dengan memasang gambar secara tersebar.Di antara kolom diberi garis
pemisah dengan warna yang lemah.Headlines
dan sub headlines disusun menggunakan huruf kapital berukuran lebih besar untuk
menarik perhatian.
7.
Style Youthful
Style youthful memiliki kesan lucu, main-main, serta menyenangkan. Pada style ini digunakan unsur gambar serta
pilahan font yang mendukung.
Penulisan headlines dilakukan
menggunakan huruf dengan berbagai ukuran.
8.
Style Natural
Memiliki susunan yang elegan
menggunakan teks yang berspasi lebar. Jarak antara headlines dengan body
teks dibuat cukup jauh. Bidang gambar ditampilkan dalam bentuk oval. Untuk memberikan kesan tertib dan
rapi, masing-masing bidang cetak diberi garis border, sedangkan pada bidang gambar digunakan latar belakang segi
empat menggunakan ukuran yang sama dengan bidang teks di sebelahnya. Antara
garis border dengan teks diberi
bidang kosong yang cukup.
9.
Style Prestigious
Hal yang menonjol pada style ini adalah penggunaan bidang
kosong yang cukup luas untuk menciptakan keluwesan (gracefull) dan fokus. Penggunaan Drop cap memberikan kesan awal anggun pada halaman. Pemasangan headlines ditempatkan di halaman
tersendiri.
3.3
Media
Menurut
Pujiriyanto (2005, 15), media adalah sarana komunikasi untuk penyampaian pesan
kepada konsumen dalam bentuk cetak maupun audio
visual.
Landasan
pemikiran dalam pemilihan media adalah kemampuan untuk menjangkau massa,
kapasitas informasi yang dapat diemban media.
3.4
Jenis
Media
Menurut
Madjadikara (2010, 11), jenis media yang diproduksi biasanya dikelompokkan
menjadi dua kelompok besar, yaitu media cetak dan media elektronik.
1.
Media Cetak
Media cetak
adalah kumpulan berbagai media informasi yang dibuat dan disampaikan kepada
sasaran melaui tulisan (cetakan) dan seringkali disertai gambar sehingga dapat
dilihat dan dibaca. Informasi dari media cetak hanya akan sampai kepada sasaran
apabila sasaran melihat atau membacanya. Dengan demikian sasaran harus aktif.
Dilihat dari segi keefektifan komunikasi, khususnya komunikasi pemsaran atau
periklanan. Kelebihan media cetak adalah dapat menampilkan gambar dan informasi
yang lebih rinci dan lebih mudah disimpan atau didokumentasikan untuk keperluan
kudian hari.
2.
Media Elektronik
Media
elektronik terbagi dalam dua kelompok besar, yaitu media yang hanya bisa
didengar (audio) seperti radio dan
media yang selain dapat didengar dan juga dilihat (audio-visual) seperyi televisi. Media elektronik membuat sasaran
tidak perlu aktif. Pesan tetap sampai pada saat sasaran sengaja atau tidak
sengaja mendengar atau melihat acara atau program radio ataupun televisi.
3.5
Promosi
Menurut Fuad
dkk (2000, 130), promosi merupakan kegiatan-kegiatan yang secara aktif
dilakukan perusahaan untuk mendorong konsumen membeli produk yang ditawarkan.
3.6
Tujuan
Promosi
Menurut
Perreault dkk (2009, 76) tujuan dari adanya promosi ialah:
1.
Menginformasikan
Dengan adanya
promosi konsumen dapat mengetahui informasi menegenai produk yang ditawarkan
suatu perusahaan dapat memperlihatkan bahwa produknya memenuhi kebutuhan
konsumen.
2.
Membujuk
Selain
menginformasikan kepada konsumen tentang produk yang dipasarkan, membujuk juga
penting dalam promosi. Membujuk merupakan usaha untuk mendemonstrasikan mengapa
suatu merek lebih baik dibandingkan dengan yang lainnya sehingga konsumen akan
membeli, dan terus membeli produk yang dipasarkan.
3.
Mengingatkan
Mengingatkan
konsumen akan kepuasan yang pernah diperoleh sehingga dapat mencegah konsumen
berpindah merek.
3.7 Media Visual
Media Visual Menurut Daryanto
(1993, 27) adalah semua alat peraga yang digunakan dalam proses belajar yang bisa
dinikmati lewat panca-indera mata Media visual (image atau perumpamaan) memegang peran yang sangat penting dalam
proses belajar.
Adapun beberapa media visual
yang akan dipaparkan pada laporan ini yaitu :
1.
Flyer adalah surat edaran, atau leaflet,
merupakan bentuk iklan kertas ditujukan untuk distribusi yang luas dan biasanya
dipasang atau didistribusikan di tempat umum.
2.
Brosur
adalah publikasi
resmi perusahaan berbentuk cetakan, yang berisi informasi mengenai suatu
produk, layanan,
atau program, yang ditujukan kepada pasar sasaran (target market) atau khalayak
sasaran (target
audiens) tertentu,
di bagikan secara cuma-cuma alias gratis dengan tujuan untuk memperkenalkan
secara lebih terperinci mengenai produk, layanan, program tersebut untuk
membantu upaya pemasaran atau marketing
public relations.
3.
X-banner
adalah media
yang digunakan untuk menyampaikan informasi, berbentuk banner dengan konstruksi
penyangga berbentuk "X" sehingga banner bisa berdiri sendiri.
4.
Neonbox
adalah media
yang berupa kotak berisi lampu-lampu tabung dengan permukaan yang ditampilkan
bersifat datar dan dapat meneruskan sinar. Permukaan neon box menampilkan
gambar produk yang diiklankan, dengan menggunakan media-media antara lain digital
printing pada colleybrite, panaflek, transparency film,
atau dengan sticker.
3.7
Software
Software
yang digunakan dalam membuat rancangan media promosi
yaitu adobe photoshop CS3, menurut
Gunawan (2009, 5), Adobe Photoshop
merupakan salah satu aplikasi untuk memanipulasi gambar yang sangat banyak
penggunanya. Adobe Photoshop selain digunakan oleh professional fotogafi, web
designer, image editor, fotografer dan para desainer grafis juga digunakan
dalam insdustri percetakan. Adobe
Photoshop CS3 merupakan update atau pengembangan dari adobe photoshop versi sebelumnya agar lebih mudah dipakai dan lebih
lengkap.
DAFTAR PUSTAKA
Ananda, Maya. 1978. Seluk Beluk Reklame Dalam Dunia Perdagangan.
Jakarta : Mutiara
Ambrose,
Gavin & Paul Harris. 2005. Basics
Design : Layout. AVA Publishing SA
Daryanto, 1993. Media Visual
untuk Pengajaran Teknik. Bandung : Tarsito
Fuad, M dkk, 2000. Pengantar Bisnis. Jakarta : Gramedia
Pustaka Utama
Gunawan, Wawan. 2009. Teknik Menjadi Desainer Profesional Adobe
Photoshop CS3. Bandung : Yrama Widya
Kusrianto, Adi. 2007. Pengantar Desain Komunikasi Visual. Yogyakarta
: Andi
Laksana dan Suryawan. 2004. Teori Grafis Komputer. Yogyakarta : Andi
Madjadikara, A. 2010. Bagaimana Biro Iklan Memproduksi Iklan. Jakarta
: Gramedia Pustaka Utama
Perreault, J dkk. 2009. Pemasaran Dasar Pendekatan Manajemen Global.
Jakarta : Salemba Empat
Pujiriyanto. 2005. Desain Grafis Komputer (Teori Grafis
Komputer). Yogyakarta : Andi
Sanyoto, Sadjiman Ebdi. 2005. Dasar-Dasar Tata Rupa & Desain (Nirmana).
Yogyakarta : Arti Bumi Intaran
Santosa, Sigit. 2002. Advertising Guide Book Jakarta : PT.
Gramedia Pustaka
Suryanto, M. 2004. Analisis & Desain Aplikasi Multimedia
untuk Pemasaran. Yogyakarta : Andi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar