Sabtu, 07 Juni 2014

MAKALAH "TRADISI MAKEPUNG DI JEMBRANA, BALI"

BAB I
PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang Masalah
Tradisi makepung merupakan suatu aset budaya bangsa yang patut kita lestarikan khususnya di Kabupaten Jembrana Bali.
Hal tersebut dikarenakan tradisi makepung akan cepat tenggelam jika pemerintah ataupun masyarakat meninggalkan tradisi tradisional itu, karena adanya kemajuan di bidang teknologi yang dapat menyaingi tradisi makepung.
Selain itu , tradisi tersebut itu bisa punah, bahkan Kabupaten Jembrana yang dikenal sebagai bumi makepung juga akan mulai memudar kemasyurannya sedikit demi sedikit.
Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat khususnya Kaupaten Jembrana patut menjaga dan melestarikan tradisi tersebut. Bahkan kalau bisa di kembangkan sampai dikenal dikalangan mancanegara.
Karena hal tersebut bisa mendatangkan banyak wisatawan baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri, jika hal tersebut berhasil, maka Kabupaten Jembrana akan semakin dikenal oleh dunia dan dapat meningkatkan perekonomian di Kabupaten Jembrana.

1.2       Rumusan Permasalahan
Berdasarkan penelitian yang telah saya lakukan, maka adapun beberapa permasalahan yang dapat penulis angkat adalah sebagai berikut :
1.      Apa itu “Makepung” ?
2.      Kapan saja diadakannya perlombaan “Makepung” ?
3.      Bagaimana cara menentukan pemenang dalam prlombaan “Makepung” ?
4.      Bagaimana cara melaksanakan “Makepung” ?
5.      Teknik apa saja yang digunakan dalam “Makepung” ?


1.3       Tujuan Penelitian
Berdasarkan penelitian yang telah saya lakukan, maka adapun tujuan dari penelitian ini yaitu sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui apakah yang dimaksud dengan tradisi “Makepung” yang ada di daerah Jembrana.
2.      Untuk mengetahui kapan dan dimana perlombaan makepung bisa dilakukan.
3.      Untuk mengetahui cara menentukan pemenang dalam perlombaan “Makepung”.
4.      Untuk mengetahui bagaimana tata cara dalam perlombaan “Makepung”.
5.      Untuk mengetahui teknik – teknik didalam perlombaan “Makepung”.
1.4       Manfaat Penelitian
Berdasarkan penelitian yang telah saya lakukan, maka adapun manfaat dari penelitian ini yaitu sebagai berikut :
1.      membantu masyarakat bagaimana sejarah dari tradisi “Makepung”.
2.      Agar masyarakat khususnya di Daerah Jembrana bisa melestarikan tradisi makepung supaya tidak hilang.
3.      Agar masyarakat khususnya di Daerah Jembrana tetap melaksanakan tradisi makepung.
1.5       Hipotesis Penelitian
Seperti kita ketahui “Tradisi Makepung” telah kita kenal dari dulu saat mereka “Mekajang” (mengangkut hasil panen dari sawah ke rumah). Saat berangkat ke sawah, pedati yang belum terisi muatan hasil panen akan terasa lebih ringan ditarik oleh pasangan kerbau tersebut. Di sinilah sang kusir pedati mulai saling memacu kerbaunya hingga iring-iringan tersebut berubah menjadi ajang balap pedati menuju ke lokasi panen. Balapan pedati pasca panen inilah yang kemudian menginspirasi adanya “Tradisi Makepung”di Jembrana. Namun dalam makepung, alat untuk memukul kerbau tidak lagi menggunakan pecut atau cemeti, tetapi memakai tongkat rotan bergerigi yang terbuat dari paku-paku tajam yang ditancapkan pada rotan tersebut. Pedati yang digunakan juga bukan pedati besar seperti saat mengangkut hasil panen, melainkan pedati kecil yang hanya cukup untuk sang joki.
     BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Makepung atau balap kerbau, atau oleh orang bule sering disebut bullrace ini, merupakan balapan yang terdiri dari dua sampai tiga pasang kerbau jantan yang masing-masing menarik satu pedati kecil. Menurut kata sesepuh di daerah saya, tradisi ini bermula dari kegiatan nenek moyang jaman dulu saat mereka mekajang (mengangkut hasil panen dari sawah ke rumah).
Saat berangkat ke sawah, pedati yang belum terisi muatan hasil panen akan terasa lebih ringan ditarik oleh pasangan kerbau tersebut. Di sinilah sang kusir pedati mulai saling memacu kerbaunya hingga iring-iringan tersebut berubah menjadi ajang balap pedati menuju ke lokasi panen. Balapan pedati pasca panen inilah yang kemudian menginspirasi adanya tradisi makepung di Jembrana.
Namun dalam makepung, alat untuk memukul kerbau tidak lagi menggunakan pecut atau cemeti, tetapi memakai tongkat rotan bergerigi yang terbuat dari paku-paku tajam yang ditancapkan pada rotan tersebut. Pedati yang digunakan juga bukan pedati besar seperti saat mengangkut hasil panen, melainkan pedati kecil yang hanya cukup untuk sang joki.

  

BAB III
METODOLOGI
3.1       Pendekatan Dan Jenis Penelitian
1. Pendekatan dengan cara mewawancarai narasumber dan menggunakan metode wawancara serta mencatat informasi yang peneliti amati selama penelitian.
2.      Jenis Penelitian dengan metodo observasi dan metodo wawancara.
3.2       Kehadiran Penelitian
      Peneliti yang meneliti tentang “Tradisi Makepung” di Jembrana hanya satu orang yaitu :
                        Nama               : I PUTU PRANG WIPRAJA
                        Kelas               : XII BAHASA
                        NIS                 : 1187
3.3           Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian menunjukkan pada pengertian lokasi situasi kebudayaan, yang dicirikan oleh adanya tiga unsur antara lain; tempat, seni, dan kegiatan. Jadi dengan demikian yang dimaksud lokasi penelitian disini adalah (1) dari unsur tempat, yang merupakan lokasi berlangsungnya penelitian yakni di desa pakraman Delod Brawah, Kecamatan Mendoyo Kabupaten Jembrana. (2) unsur seni, yang merupakan bentuk seni dalam kebudayan. (3) unsur kegiatan dimaksudkan prosesi “Tradisi Makepung” di desa Delod Brawah.
            Penelitian terhadap “Tradisi Makepung” ini peneliti mengambil lokasi di desa Delod Brawah, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana. Desa ini dipilih dengan alasan dan pertimbangan, setelah mengamati pelaksanaan Makepung tersebut yang dilakukan secara turun temurun.




3.4              Rencana Tindakan
1.      Memilih masalah,
2.      Merumuskan masalah,
3.      Merumuskan anggapan dasar,
4.      Memilih pendekatan,
5.      Menentukan sumber data,
6.      Menentukan dan menyusun instrument,
7.      Mengumpulkan data,
8.      Analisis data,
9.      Menarik kesimpulan,
10.  Membuat karya ilmiah.

3.5              Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan beberapa metode  yaitu; metode observasi, metode wawancara, metode pencatatan dokumen.
A.    Metode Observasi
Metode observasi adalah metode pengumpulan data di mana peneliti mencatat informasi sebagaimana yang peneliti amati selama penelitian. Penggunaan metode observasi difokuskan pada pengamatan terhadap pelaksanaan tradisi “Makepung”. Metode observasi merupakan alat pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diamati. Pengamatan ini diikuti dengan pencatatan segala hal yang dianggap penting untuk menunjang penelitian. Pengamatan (observasi) adalah teknik pengumpulan data di mana peneliti mencatat informasi sebagaimana yang mereka saksikan selama penelitian. Penyaksian terhadap peristiwa-peristiwa itu bisa dengan melihat, mendengar dan merasakan, yang kemudian seobyektif mungkin.




B.     Metode Wawancara
Teknik wawancara atau interviewer dapat dilakukan melalui dua cara yaitu
1.                  Interview Bersetruktur
Interview berstruktur merupakan interview yang di mana peneliti ketika melaksanakan tatap muka dengan responden menggunakan pedoman wawancara yang telah disiapkan terlebih dahulu.
2.                  Interview Mendalam
Interview mendalam merupakan suatu cara mengumpulkan data atau informasi dengan cara langsung bertatap muka dengan informan, dengan maksud mendapatkan gambaran lengkap tentang topik yang diteliti. Wawancara mendalam dilakukan terhadap orang-orang yang dianggap tahu dan menguasai permasalahan yang hendak diteliti. Untuk mengarahkan kegiatan wawancara ini dipergunakan pedoman wawancara. Wawancara mendalam dalam penelitian ini dilakukan terhadap beberapa informan, yaitu; (Bendesa Adat, dan orang yang melakukan tradisi “Makepung). Wawancara mendalam dilakukan secara intensif dan berulang-ulang. Pada penelitian kualitatif, wawancara mendalam menjadi alat utama yang dikombinasikan dengan observasi partisipasi. Wawancara yang dilakukan secara bebas, bebas dalam artian tidak berstruktur pertanyaan-pertanyaan yang akan disajikan.
            Dalam penelitian ini yang menjadi pihak pewawancara adalah peneliti sendiri yang akan mengajukan beberapa pertanyaan yang terkait dengan tradisi “Makepung” yang dilaksanakan oleh warga desa Delod Brawah. Sedangkan yang menjadi pihak responden atau yang diwawancarai adalah para tokoh masyarakat desa Delod Brawah, warga yang melaksanakan tradisi “Makepung”.




3.6       Indikator Kerja
Ø  Dapat mengerti tentang tata cara melaksanakan tradisi “Makepung”.
Ø  Dapat memahami bagaimana cara melestarikan tradisi “Makepung”.
Ø  Dapat menjaga tradisi “Makepung” dan bisa memperkenalkan tradisi “Makepung” secara luas.


  
BAB IV
PAPARAN DATA DAN PEMBAHASAN
4.1       Pengertian Makepung
Kabupaten Jembrana adalah Kabupaten yang terletak di Bali Barat, masyarakatnya adalah agraris yang terkenal dengan organisasi yang disebut Subak yaitu organisasi yang mengatur tentang pengairan di sawah. Masyarakat petani dalam melakukan aktifitas pertanian di sawah dengan memanfaatkan alat-alat tradisional yang paling populer disebut bajak. Dalam pengolahan tanah dibagi dalam tahapan-tahapan kegiatan yaitu untuk menggemburkan tanah memakai bajak tenggala.
Untuk membersihkan tanah dari gulma-gulma memakai bajak jangkar, untuk melumatkan tanah menjadi lumpur memakai bajak lampit slau, dan terakhir untuk menghaluskan tanah memakai bajak plasah.Setelah permukaan tanah lumpur tersebut halus baru ditanami padi bulih (tanaman pohon padi yang masih muda), yang mana dalam proses aktifitas pertanian di sawah ini masyarakat Bali menerapkan sistim kerja ngajakan (kerja gotong royong/bekerja saling bantu membantu tanpa imbalan jasa). Untuk menarik bajak ini dipakai kerbau dua ekor berpasangan, yang dituntun oleh seorang Sais / Joki yang duduk di atas bajak tersebut.
Makepung yang dalam bahasa Indonesia berarti berkejar-kejaran, adalah tradisi berupa lomba pacu kerbau yang telah lama melekat pada masyarakat Bali, khususnya di Kabupaten Jembrana. Makepung atau balap kerbau, atau oleh orang bule sering disebut bullrace ini, merupakan balapan yang terdiri dari dua sampai tiga pasang kerbau jantan yang masing-masing menarik satu pedati kecil.Menurut kata sesepuh di daerah saya, tradisi ini bermula dari kegiatan nenek moyang jaman dulu saat mereka mekajang (mengangkut hasil panen dari sawah ke rumah).
Saat berangkat ke sawah, pedati yang belum terisi muatan hasil panen akan terasa lebih ringan ditarik oleh pasangan kerbau tersebut. Di sinilah sang kusir pedati mulai saling memacu kerbaunya hingga iring-iringan tersebut berubah menjadi ajang balap pedati menuju ke lokasi panen. Balapan pedati pasca panen inilah yang kemudian menginspirasi adanya tradisi makepung di Jembrana.
Dalam makepung, alat untuk memukul kerbau tidak lagi menggunakan pecut atau cemeti, tetapi memakai tongkat rotan bergerigi yang terbuat dari paku-paku tajam yang ditancapkan pada rotan tersebut. Pedati yang digunakan juga bukan pedati besar seperti saat mengangkut hasil panen, melainkan pedati kecil yang hanya cukup untuk sang joki.
4.2       Diadakannya Makepung
Atraksi Mekepung dilaksanakan setiap hari Minggu dan dapat disaksikan mulai dari bulan Juni sampai dengan bulan Oktober yaitu berupa latihan dan sepuluh kali pertandingan dalam bentuk pertandingan lokal, pertandingan perebutan piala Bupati Cup (Bulan Agustus) dan pertandingan perebutan Piala Gubernur Cup (Bulan Oktober).
Sirkuit Mekepung di jalan yang ada di sawah untuk pertandingan lokal ada di Dlod Brawah, Mertasari Loloan Timur, Tegal Berkis Desa Banyubiru, Temuku Aya Desa Tegalcangkring dan Kaliakah.
Sedangkan sirkuit Mekepung untuk pertandingan Bupati Cup dan Gubernur Cup ada di sirkuit Mekepung Desa Dlod Brawah yang ada di pinggir pantai dan sirkuit Mekepung di Tegal Berkis yang ada di Desa Banyubiru.
4.3       Cara Menentukan Pemenang Dalam “Makepung”
v    Mekepung di jalan adalah lomba lari kejar-kejaran yaitu apabila pasangan kerbau pepadu yang ada di depan larinya bisa meninggalkan lawannya yang ada dibelakang lebih panjang dari jarak 5 meter, maka yang di depan dinyatakan sebagai pemenangnya.
v    Apabila pasangan kerbau pepadu yang di belakang larinya bisa mendekat sampai jaraknya kurang dari 5 meter dengan pasangan kerbau pepadu di depannya maka pepadu yang di belakang, dinyatakan sebagai pemenangnya.
v    Menang dan kalah kerbau dinilai setelah kerbau tersebut mencapai garis finish.
v    Hadiah bagi pemenang Mekepung adalah berupa piala dalam bentuk Tropi dan dalam bentuk uang dalam jumlah tertentu dari Bupati Jembrana dan Gubernur Bali.
v    Piala ini ada dua jenis yaitu : Piala Bupati Cup dan Piala Gubernur Cup.

4.4       Cara Pelaksanaan Makepung
v    Kerbau pepadu yang menarik Pedati dipasang / ditempatkan berurutan di jalan yaitu ditempatkan berjajar ke belakang, jadi 1 (satu) pasang kerbau pepadu ditempatkan di depan dan 1 (satu) pasang kerbau lawannya ditaruh dibelakang, dengan jarak antara di depan dan di belakang dengan ukuran satu pedati yaitu sepanjang 5 meter.
v    Pasangan kerbau pepadu yang sudah mulai start diberi komando oleh juri berupa aba-aba : satu, dua, tiga dan pada hitungan tiga kerbau pepadu mulai lari menuju batas ujung jalan sirkuit.
v    Sampai di ujung jalan sirkuit pasangan kerbau tersebut berhenti dan istirahat, jadi tidak langsung kembali balik ke garis finish.
v    Setelah pasangan kerbau pepadu seluruhnya yang berjumlah 100 (seratus) pasang sudah dilepas, baru pasangan kerbau pepadu yang lari pertama mulai start untuk lari menarik pedati menuju garis finish, dan disinilah penentuan mana yang menang dan yang kalah.
v    Karena Mekepung dalam berlomba memakai blok (regu) maka yang menang adalah blok (regu), bukan perorangan.
v    Apabila pasangan kerbau pepadu Blok Timur (Regu Ijogading Timur) yang lebih banyak menang maka Blok Timur (Regu Ijogading Timur) dinyatakan sebagai pemenangnya.
v    Begitu pula sebaliknya berlaku bagi Blok Barat (Regu Ijogading Barat) yang lebih banyak menang maka Blok Barat (Regu Ijogading Barat) dinyatakan sebagai pemenangnya.

4.5       Teknik Yang  Digunakan Dalam “Makepung”
a.       Teknik Makepung yang dipakai pada Sirkuit tanah sawah berlumpur :
Ø    Sawah yang dipakai untuk Makepung adalah sawah yang petakannya agak luas dengan ukuran panjang 100 meter dengan lebar 50 meter.
Ø    Pasangan kerbau pepadu (Kerbau Aduan) Makepung di tempat berjajar kesamping yaitu bisa jajar tiga sampai jajar lima yang menarik bajak slau.
Ø    Garis start dan garis finish dalam istilah Mekepung disebut Penaripan, yang letaknya pada satu tempat dalam artian start disana dan finish juga disana.
Ø    Pasangan kerbau paduan yang sudah berjajar kemudian diberi komando oleh Sayo (Juri Mekepung), dengan aba-aba : satu, dua, tiga, maka pada hitungan ketiga pepadu tersebut lari berbalapan (berpacu) cepat-cepatan mengejar Penaripan (garis finish).
Ø    Lari kerbau pepadu diatur bolak balik sekaligus yaitu mulai dari start lari menuju batas ujung sawah dengan jarak 100 meter dan setelah sampai dibatas ujung sawah maka kerbau pepadu tersebut langsung lari balik menuju garis finish yang letaknya sama pada garis start.
Ø    Sehingga kerbau pepadu tersebut lari menempuh jarak bolak balik sepanjang 200 meter.
Ø    Bagi pasangan kerbau yang paling dahulu bisa mencapai Penaripan (garis finish) dinyatakan sebagi pemenang.
Ø    Hadiah bagi pemenang Mekepung berupa kebanggaan karena Atraksi Mekepung adalah atraksi hiburan bagi penggemar Mekepung.



BAB V
PENUTUP
5.1       Kesimpulan
Dari materi dan pembahasan di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa Tradisi Makepung adalah tradisi berupa lomba pacu kerbau yang telah lama melekat pada masyarakat Bali, khususnya di Kabupaten Jembrana.Tradisi Makepung atau balap kerbau, atau oleh orang bule sering disebut bullrace ini, merupakan balapan yang terdiri dari dua sampai tiga pasang kerbau jantan yang masing-masing menarik satu pedati kecil. Dalam makepung, alat untuk memukul kerbau tidak lagi menggunakan pecut atau cemeti, tetapi memakai tongkat rotan bergerigi yang terbuat dari paku-paku tajam yang ditancapkan pada rotan tersebut. Pedati yang digunakan juga bukan pedati besar seperti saat mengangkut hasil panen, melainkan pedati kecil yang hanya cukup untuk sang joki.
5.2       Saran
Ø   Para pemuda Jembrana lebih bisa untuk melestarikan tradisi makepung agar tidak punah, dan bisa terkenal sampai di luar daerah Jembrana.
Ø   Para masyarakat khususnya di daerah Jembrana bisa memahami tentang tradisi makepung, karena tradisi makepung adalah warisan yang perlu kita jaga bersama.



DAFTAR PUSTAKA
id.shvoong.com/social-sciences/1997503-rancangan-penelitian/
abdulhamid.files.wordpress.com

Mekepung Benhur Jembrana, Bali.Adang Suprapto

navigasi.net

sumber : berbagai sumber

erabaru.net

Narbuko, dkk. 2005:52
W. Gulo, 2002 dalam Eka Pradnyana






LAMPIRAN – LAMPIRAN
           








Senin, 19 Mei 2014

Filsafat Wedanta

BAB I PENDAHULUAN
1.1              Latar Belakang
Agama Hindu tidak didirikan oleh orang tertentu, pemikiran, atau inkarnasi tertentu. Dengan demikian, tradisi Agama Hindu bukanlah bersifat tunggal dan merupakan sistem teori, prinsip, atau praktek yang sederhana. Hal ini terdiri dari berbagai pemikiran dan pengalaman yang berbeda yang telah terkumpulkan selama lebih dari ribuan tahun oleh para Rsi dan orang-orang suci.
Filsafat, agama, dan ilmu saling berkaitan. Walaupun agama berlandaskan kepercayaan, dan filsafat berdasarkan pertimbangan, akan tetapi tidak bertentangan, sebab ditinjau dari sudut tujuannya, sama-sama mencari kebenaran. Agama Hindu pun tak terbatas dari Filsafat yang dikenal dengan nama Darsana (Filsafat Hindu).


BAB II PEMBAHASAN
2.1       Pengertian Filasafat dan Wedanta
Pengertian filsafat berbeda dengan ilmu pengetahuan dan berbeda pula dengan pengertian agama. Menurut Drs.S.P. Siagian, MPA. dalam bukunya Filsafat Administrasi mengatakan “kata filsafat’ berasal dari bahasa Yunani, dari kata “Philllos” berarti gemar, senang atau cinta, dan kata “Sophia” artinya kebijaksanaan. Karena itu filsafat berarti cinta kepada kebijaksanan. Seseorang menjadi bijaksana karena berusaha mendalami hakikat sesuatu. Dengan demikian filsafat berarti berusaha mengetahui tentang sesuatu dengan sedalam-dalamnya, baik mengenai hakekat adanya sesuatu fungsi, ciri-cirinya,kegunaannya, masalahnya serta pemecahan terhadap masalah-masalah itu.[3]
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia yang disusun oleh W.J.S. Poerwadarminta, Falsafat berati pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai sebab-sebab, asas-asas hkum, dsb. daripada segala yang ada dalam alam semesta ataupun mengenai kebenaran dan arti “adanya” sesuatu.[4]
Selain itu Prof.Ir.R. Pudjawijatna, dalam bukunya Pembimbing ke arah Filsafat, juga menegaskan arti filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab-sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka. Secara garis besar perkembangan filsafat di dunia dibagi menjadi 2 kubu, yakni filsafat yang mengacu ke Timur (Asia) dan filsafat yang mengacu pada Barat (Eropa).
Dari kedua kubu filsafat tersebut, yang pertama berkembang adalah filsafat yang berasal dari Timur. Filsafat Timur sendiri sebenarnya terdiri dari tiga cabang yang didasarkan pada periodeisasi dan wilayahnya, yaitu filsafat India, filsafat Cina, dan filsafat Arab. Filsafat India mengarah pada Hinduisme dan Budhaisme, filsafat Cina mengarah kepada Taoisme dan Konfusianisme, sedangkan filsafat Arab, tentu saja mengarah kepada Islam. Mengacu pada periodesasi filsafat Timur, filsafat yang berkembang pertama kalinya adalah aliran filsafat India yang mengarah kepada Hinduisme dan Budhaisme.
Adapun Wedanta berasal dari kata “weda” dan “anta”, yang artinya bagian terakhir dari Weda (Uttara Mimamsa) atau selesainya Weda. Nama ini adalah nama yang diberikan pada ajaran Upanisad. Upanisad sendiri tidak terorganisasi dan filsafat yang sistematis agar dapat dianalisis dengan lebih mudah.[5] Wedanta merupakan kesimpulan dan perluasan tafsir Upanisad. Didirikan oleh Badarayana pada 500 M.[6]
 Didalamnya dibicarakan apa yang disebut “Jnana Marga”, yang artinya “Jalan Ilmu”. Hal itu menunjukkan bahwa Wedanta itu adalah suatu jalan kelepasan dengan mempergunakan ilmu (pengetahuan).[7]
Kitab Upanisad juga disebut dengan Wedanta, karena kitab-kitab ini mewujudkan bagian akhir dari Weda yang bersifat menyimpulkan. Upanishad juga yang sudah dikenal sebagai Wedanta, sudah ribuan tahun menjadi sumber inspirasi filsafat religius umat Hindiu. Kata Upanishad memiliki arti duduk dekat guru atau mendekatkan diri kepada Tuhan. Upanishad merupakan ajaran rahasia dari Weda yang oleh para guru dinamakan dengan istilah Wedopanisad. Jumlah kitab Upanishad adalah 108 buah.
Walaupun hanya diterima sebagai “sruti”, yaitu sebagai bagian dari pewahyuan Weda, status Upanishad bukan menyampaikan kearifan manusia, namun menyediakan kebenaran yang membebaskan.[8] Ada tiga faktor yang meyebabkan Upanishad disebut dengan Wedanta, yaitu:
1.      Upanishad adalah hasil karya terakhir dari zaman Weda.
2.      Pada zaman Weda program pelajaran yang disampaikan oleh para Resi kepada sisyanya, Upanishad juga merupakan pelajaran terakhir. Para Brahmacari pada mulanya diberikan peajaran Shamhita yakni koleksi syair-syair dari zaman Weda. Kemudian dilanjutkan dengan pelajaran Brahmana yaitu tata cara untuk melaksanakan upacara keagamaan
3.      Upanishad merupakan kumpulan syair-syair yang terakhir daripada zaman Weda. Oleh karena itu Upanishad adalah inti dari Weda atau Wedanta.[9]
Ada yang menyebutkan bahwa sebutan Wedanta itu diartikan sebagai suatu sistem filsafat yang ajarannya didasarkan pada kitab Upanishad. Karena banyaknya kitab Upanishad dan untuk memudahkan sistem pengajarannya, maka Badarayana mencoba menyusun secara sistematis pengajaran Upanishad dalam sebuah Sutra yang dinamakan Wedanta Sutra. Kitab ini terbagi atas empat bab yang setiap babnya memuat hal – hal sebagai berikut :
1.      Menyatakan bahwa Brahman adalah realitas yang tertinggi dan semua ayat Weda mengandung Brahman di dalamya.
2.      Menyatakan bahwa semua ajaran yang tidak sesuai dengan Weda tidak akan dapat dipertahankan.
3.      Membicarakan syarat – syarat untuk menyatukan diri dengan Brahman.
4.      Membicarakan pahala dari seseorang yang telah mendapatkan pengetahuan tentang Brahman atau Brahma Widhya.
Kitab Brahma Sutra (Wedanta Sutra), Upanisad dan Bhagawadgita, ketiga kitab tersebut menjadi dasar filsafat Wedanta.
2.2       Pokok-Pokok Ajaran Wedanta
Ajaran Vedanta, sering juga disebut dengan Uttara Mimamsa yaitu penyelidikan yang kedua, karena ajaran ini mengkaji bagian Weda, yaitu Upanishad. Kata Vedanta berakar kata dari Vedasya dan Antah yang berarti akhir dari Weda. Sumber ajaran ini adalah kitab Vedantasutra atau dikenal juga dengan nama Brahmasutra (Aphorisme yang berhubungan degan Brahman). Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, pelopor ajaran ini adalah Maharsi Vyasa, atau dikenal juga dengan nama Badarayana atau Krishna Dwipayana.
Brahma Sutra terdiri dari 550 aphorisme dan ringkasan dari filsafat dasar dari Upanishad dalam empat treatise (Adhyaya). Dengan adanya pandangan dari para cendikiawan, dalam Brahma Sutra merefleksikan filsafat Chandogya Upanisad lebih dari Upanisad yang lain. Aphorisme dalam Brahma Sutra sangatlah pendek dan beberapa diantaranya hanya terdiri dari satu atau dua kata. Aphorisme ini tidak dapat diketahui artinya tanpa pembahasan. Komentar tradisional yang mengandung dasar dari berbagai sistem filsafat, yang beberapa diantaranya memberikan interpretasi diametris yang berlawanan dari sutra kecil yang sama.
Untuk memenuhi sebagai pendiri aliran Vedanta dengan julukan “master” (acarya), seorang pemimpin religius harus menulis komentar terhadap teks-teks utama Upanisad, Bhagavad-ghita, dan Vedanta Sutra. Seperti yang telah disebutkan diatas, ada 3 sekolah utama filsafat Wedanta yang masing-masingnya memiliki tokoh dan pendapat yang berbeda. Perbedaan dasar dari sistem ini adalah kepercayaan mereka untuk pertain dengan hubungan inter antara Brahman, dunia, dan atman.
1.      Adwaita Wedanta
Pemikiran Adwaita didasarkan pada interpretasi Wedanta yang dibuat oleh Adi Sankaracarya seorang Rsi dan juga seorang cendekiawan terkemuka, yang sering disebut dengan seorang ahli metafisika Hindu yang jenius. Beliau hidup kira-kira 788-820 SM yang terlahir dalam keluarga Brahmana di kota Coshin, India Selatan. Saat ia berumur delaan tahun, ia sudah menguasai semua kitab Hindu. Ia menjadi seorang yang religius, guru spiritual juga pereformasi dan pendiri dari empat Monasteri di India, diantaranya di Badrinatha di Himalaya, di Dwarika di Pantai Barat,di Puri di Pantai Timur, dan yang terakhir di Sringeri di daerah Mysore. Biara ini sangat terkenal dan merupakan pusat pembelajaran dan tempat suci di India.
Adwaita adalah sistem nondualistis. Menurut Sankara, Atman sama dengan Brahman, yakni esensi subjektivitas yang bersatu dengan esensi dunia. Dunia seluruhnya tergantung pada Brahman, tetapi Brahman tidak tergantung pada dunia. Brahman adalah dasar seluruh pengalaman, ia tidak sama dengan dunia, tidak berbeda dengan dunia, tidak empiris, tidak objektif, bukan tidak ada, sangat berbeda dari yang lain. Moksa atau pembebasan diri dicapai dengan praktek devosi dan mewudjudkan nilai-nilai etis. Ini dicapai selama orang hidup.
Menurut Adwaita Wedanta, semua makhluk baik yang hidup maupun yang tidak hidup tiada lain adalah Brahman. Brahman adalah kenyataan mutlak dan tidak ada kenyataan yan lain selain Brahman. Dalam kata-katanya Sankaracarya mengatakan:
“Brahman satyam jagan mithya, jivo Brahmaiva naparah”
“Brahman sendiri adalah kebenaran, dalam dunia yang tidak nyata ini. Atman (Jiwa individu) adalah hanya Brahman dan bukan yang lain”.
2.      Wishistadwaita
Ramanujacarya (1055-1137) adalah tokoh utama yang menguraikan pemikiran filsafat Wedanta. Ia terlahir dari keluarga Brahmana di Bhutapuri di India Selatan. Ia adalah orang suci dan seorang cendekiawan dan mengajarkan pencerahan suci di Srirangam dekat dengan Tiruchirappali saat ini.
 Wishistadwaita menekankan perbedaan dalam non dualisme Sankara. Dunia Diri, Brahman itu riil, tapi dunia dan diri tergantung pada Brahman. Diri memiliki eksistensi abadi, dunia atau materi diri dan Brahman membentuk satu kesatuan, tetapi diri dan dunia hanya sebagai tubuh Brahman. Diluar Brahman tidak ada apa-apa. Itu sebabnya Ramanuja disebut nondualisme dengan perbedaan yakni Brahman memiliki dua bentuk, diri dan materi.setinggi apapun manusia merealisasikan diri, Brahman masih lebih tinggi. Manusia harus selalu menghormati Brahman, itulah sebabnya Ramanuja menekankan aspek kebaktian pada Brahman.
Jadi, pandangan Ramanuja ialah bahwa Brahman adalah kesatuan organis yang dibentuk oleh identitas (jati diri) yang terdiri dari bagian-bagian. Ia bukan sesuatu yang abstrak tetapi konkrit dengan dibentuk oleh objek-objek yang bermacam-macam dari kesadaran dan serempak juga kesadaran itu sendiri. Kesatuan organis inilah yang disebut Ramanuja Brahman, atau Dewa (Ishvara).
3.      Dwaita
Pemikiran dari filsafat ini dikembangkan oleh Madhvacarya (1199-1278) SM, yang lahir di Udipi dekat dengan Managlore di pantai Barat India. Ia adalah vaisnava (pemuja Dewa Wisnu) seorang yang suci dan pereformasi keagamaan. Ia mengembangkan sistem filsafat yang mengkombinasikan dualisme dengan theisme da dikenal dengan nama Dwaita, “filsafat dari keduanya”.
Menurut Madhva, pokok-pokok ajaran filsafatnya adalah perbedaan (beda). Sistem ini disebut juga realistis karena mengakui bahwa dunia ini adalah nyata bukan maya. Akhirnya sistem ini juga bersifat theistis, karena menerima adanya Tuhan yang pribadi sebagai satu-satunya kenyataan yang berdiri sendiri (swatantra) dengan kata lain Madhva mengakui/percaya dengan adanya manifestasi dari Tuhan yang beraneka ragam. Dasar ajaran Madhva adalah mengakui adanya kenyataan yang beraneka ragam di dunia ini, semuanya mempunyai ciri dan sifat tersendiri, sehingga menimbulkan perbedaan-perbedaan. Menurutnya, di dunia ini ada lima macam perbedaan-perbedaan, yaitu:
Ø  Perbedaan antara Tuhan dengan jwa,
Ø  Perbedaan antara jiwa dengan jiwa yang lainnya,
Ø  Perbedaan antara Tuhan dengan benda,
Ø  Perbedaan antara jiwa dengan benda,
Ø  Perbedaan antara benda yang satu dengan benda yang lainnya.
Semua itu berbeda secara mutlak, sekalipun perbedaan itu tidak berarti bahwa semuanya tidak saling bergantungan.

Penemuan besar pada masa Upanishad adalah apa yang biasa disebut sebagai sintesis sebagai Atman-Brahman, yakni identifikasi jiwa individual (Atman) dengan dasar semesta alam (Brahman).