Senin, 25 Juli 2016

Landasan Teori Perancangan Media Promosi

BAB III
LANDASAN TEORI

3.1      Perancangan
Perancangan menurut Suryanto (2004, 8), “Perancangan adalah proses, cara, perbuatan merancang”. Perancangan berasal dari kata asing yaitu design. Definisi desain menurut Laksana dan Suryawan (2004, 8) yang telah dikemukakan, antara lain:
1.             Cabang seni rupa yang memiliki keterkaitan dengan nilai keindahan dan aplikatif.
2.             Sebagai verb atau kata kerja : proses perancangan atau menyusun unsur-unsur seni rupa menjadi suatu bentuk komposisi yang estetis.
3.             Desain dikatakan hasil rancangan atau proses merancang unsure-unsur seni rupa dengan memadukan aspek teknologi, ilmu pengetahuan atau informasi, berdasarkan dari asas seni rupa untuk menghasilkan komposisi yang indah dan fungsional.
4.             Proses mencipta rupa untuk maksud tertentu.

3.2      Aspek-aspek Desain dalam Perancangan
            Aspek-aspek yang digunakan dalam proses perancangan ialah sebagai berikut:
1.             Ilustrasi
Ilustrasi menurut (Pujiriyanto, 2005, 40) definisinya adalah seni gambar yang dimanfaatkan untuk member penjelasan atas suatu maksud atau tujuan secara visual. Dalam perkembangannya, ilustrasi secara lebih lanjut ternyata tidak hanya berguna sebagai saran pendukung cerita, tetapi dapat juga menghiasi ruang kosong. Misalnya dalam majalah, koran tabloid, dan lain-lain. Ilustrasi bisa berbentuk macam-macam, seperti karya seni sketsa, lukis, grafis, karikatural, dan akhir-akhir ini bahkan banyak dipakai image bitmap hingga karya foto. Ilustrasi digunakan untuk membantu mengkomunikasikan pesan dengan cepat, tepat, tegas, dan merupakan terjemahan dari sebuah judul. Keberadaan ilustrasi diharapkan bisa membentuk suatu suasana penuh emosi dan menjadikan seakan-akan gagasan itu nyata. Ilustrasi sebagai gamabaran pesan yang tidak terbaca, namun bisa mengurai cerita, berupa gambar dan tulisan yaitu bentuk grafis informasi yang memikat. Dengan ilustrasi diharapakan media menjadi lebih berkesan, karena pembaca akan lebih mudah mengingat gagasan dari pada kata-kata. Ilustrasi merupakan unsure grafis yang paling vital dan dapat disajikan mulai dari goresan atau titik sederhana sampai dengan kompleks. Ilustrasi berfungsi antara lain untuk menarik perhatian, meransang minat pembaca terhadap keseluruhan pesan, memberikan eksplanasi atas pernyataan, menonjolkan keistimewaan dari produk, memenangkan persaingan, menciptakan suasana khas, dramatisasi pesan, menunjukkan suatu merk atau semboyan, dan mendukung judul iklan. Ilustrasi jika dilihat dari segi teknisnya dapat digolongkan menjadi beberapa teknik, yaitu:
a.             Ilustrasi Gambar Tangan (Hand Drawing)
Ilustrasi ini dibuat secara keseluruhan menggunakan tangan dengan memberikan ekspresi dan karakter tertentu untuk mendukung media komunikasi grafis yang dibuat, seperti iklan, poster, baliho, dan yang lainnya (Pujiriyanto, 2005, 41).

b.             Ilustrasi fotografi
Ilustrasi ini dihasilkan dengan teknik fotografi menggunakan kamera, baik manual maupun digital memungkinkan adanya pengolahan lebih lanjut, lansung tanpa scanning di komputer untuk memberikan ekspresi ataupun ilustrasi tertentu sesuai keinginan. Objek fotografi menjadi lebih realistis, esklusif, dan persuasive (Pujiriyanto, 2005, 42).

c.              Teknik gabungan
Ilustrasi bentuk komunikasi dengan struktur visual atau rupa yang terwujud dari perpaduan antara teknik fotografi dengan teknik olah digital di komputer (Pujiriyanto, 2005, 43).

2.             Tipografi
Kata tipografi berasal dari bahasa latin yaitu terdiri dari kata typos dan graphia. Typos artinya cetakan bentuk dan sejenisnya, sedangkan graphia artinya hal tentang seni tulisan. Secara umum tipografi diartikan seni mencetak dengan menggunakan huruf, seni menyusun huruf dan cetakan dari huruf atau penyusunan bentuk dengan gaya-gaya huruf. Tipografi lebih dari sepuluh ribu berlaku secara internasional dan sudah dibakukan (Kusrianto, 2007, 54). Tipografi sama dengan menata huruf yang merupakan unsure penting dalam sebuah karya desain komunikasi visual untuk mendukung terciptanya kesesuaian antara konsep dan komposisi karya. Saat ini tipografi sudah mengalami perkembangan dari fase penciptaan dengan tangan (hand draw) hingga mengalami komputerisasi. Fase komputerisasi membuat penggunaan tipografi menjadi lebih mudah dan dalam jangka waktu yang lebih cepat dengan jenis pilihan huruf yang ratusan jumlahnya. Setiap bentuk huruf dalam sebuah alphabet memiliki keunikan fisik yang menyebabkan mata kita dapat membedakan antara huruf m dengan p atau c dengan q. Keunikan ini disebabkan oleh cara mata kita melihat korelasi antara komponen visual yang satu dengan yang lain. Sekelompok pakar psikologi dari Jerman dan Austria pada tahun 1900 memformulsikan sebuah teori yang dikenal dengan teori Gestalt. Teori ini berbasis pada pattern seeking dalam perilaku manusia. Setiap bagian dari sebuah gambar dapat di analisis dan di evaluasi sebagai komponen yang berbeda. Salah satu hokum persepsi dan teori inimembuktikan bahwa untuk mengenal atau membaca sebuah gambar diperlukan adanya kontras antara ruang positif yang disebut dengan figure dan ruang negative yang disebut dengan ground. Berdasarkan klasifikasi yang dilakukan oleh James Craig, jenis huruf dibedakan menjadi lima, yaitu:
a.             Huruf berkait (Serif)
Bentuk huruf yang memiliki kait dengan ketebalan yang kontras. Jenis huruf typefaces dengan stroke menghiasi jenis huruf ini. Jenis ini merupakan huruf yang formal. Serif mengekspresikan organisai yang intelektualitas dan bentuknya sangat anggun dan konservatif (Pujiriyanto, 2005, 56).

b.             Huruf tidak berkait (Sans serif)
Bentuk huruf yang tidak memiliki kait, bertangkai tebal, sedrhana, dan mufah dibaca. Ciri lain jenis huruf ini adalah tidak memiliki stroke atau ekor. Ujungnya bisa berbentuk tumpul (rounded corner) atau tajam. Sifat huruf ini adalah hangat dan berhasabat (Pujiriyanto, 2005, 57). Berdasarkan cirri yang dimiliki sifat huruf ini kurang formal dan kesan yang ditimbulkan dari jenis huruf ini adalah modern, kontemporer, dan efisien.

c.              Huruf tulis atau latin (Script)
Jenis huruf yang merupakan dasar dari bentuk huruf yang ditulis dengan tangan, kontras tebal, dan tipisnya sedikit saling berhubungan dan mengalir. Kesan yang ditimbulkan adalah kesan keanggunan dan sentuhan pribadi (Pujiriyanto, 2005, 58).

d.             Huruf dekoratif
Bentuk huruf yang rumit sehingga jenis huruf ini hanya cocok dipakai untuk headline. Dapat membuat efek respon yang berbeda (Pujiriyanto, 2005, 60).

e.              Huruf Monospace
Jenis huruf yang memiliki jarak atau lebar yang sama di setiap hurufnya. Huruf W dan I memiliki ruang yang sama. Huruf pada mesin ketik juga merupakan huruf monospace. Banyak digunakan oleh programmer untuk coding dan performatted text (Pujiriyanto, 2005, 61).

3.             Teks
Sederetan kata atau kalimat yang menjelaskan suatu barang atau jasa untuk tujuan tertentu. Bahasa yang digunakan penyusunan teks pada iklan hendaknya sederhana, jelas, singkat, dan tepat serta memiliki daya tarik pada kalimatnya (Ananda, 1978, 63).
Teks merupakan kata-kata yang terdapat pada buku atau iklan. Teks dituntut agar mampu menggugah, menarik mengidahkan, mengidentifikasi, menggalang kebersamaan, dan mengkomunikasikan pesan dengan nilai komparatif kepada khalayak. Teks dibagi dalam beberapa sistem penamaan dan masing-masing memiliki fungsi berbeda, yaitu:
a.             Judul (Headline / Headling)
Teks yang letaknya paling atas pada sebuah iklan, dengan ukuran huruf paling besar antara yang lainnya dan biasanya untuk menyampaikan pesan yang paling penting (Santosa, 2002, 54). Judul hendaknya ekspresif, mempertegas kata-kata yang singkat dan berfungsi untuk mengkombinasikan watak sebuah tulisan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mendesain judul menurut (Pujiriyanto, 2005, 38), yaitu:
1.             Bentuk huruf mendukung judul  dan memancarkan watak tulisan.
2.             Judul kontras dengan teks yang lainnya baik dari segi warna, ukuran, dan bentuk.
3.             Ditempatkan dalam frame atau bingkai.
4.             Kata tidak terlalu panjang dan mudah dibaca.
5.             Judul sebaiknya diposisikan di tengah-tengah.
6.             Hindari judul dengan pemakaian huruf capital semua.
7.             Bentul visualisasi menunjang isi pesan seirama dengan isi dan maksud.

b.             Sub judul (Sub Headline)
Sub judul berfungsi untuk melengkapi serta memperjelas pengertian headline dan untuk membagi serta sebagai penyela teks berikutnya. Biasanya ukuran lebih kecil dari pada judul dengan warna yang berbeda pula. Sub judul dapat juga disebut sebagi kalimat peralihan yang mengarahkan pembaca dari judul ke kalimat pembuka dari naskah (body copy) (Pujiriyanto, 2005, 40). Hal yang perlu diperhatikan dalam mendesain sub judul, yaitu:
1.             Sub judul serasi dan saling mendukung dengan judulnya.
2.             Hindari penempatan dibawah kolom.
3.             Jangan berlebih menggunakan materi visual, sesuaikan jenis huruf dengan judul dan teks isinya.
4.             Gunakan tipe huruf yang kontars, misalnya tipe huruf sans serif.
5.             Gaya dan ukuran huruf pada artikel dapat dideformasi dengan memiringkan atau memperbesar 1-3 kali.
6.             Sub judul dapat ditulis dengan lekukan atau indent dengan posisi sebelah kiri.
7.             Gunakan garis bawah atau diatas sub judul untuk kejelasan atau buatkan frame.
8.             Gunakan warna berbeda dengan warna artikel.
9.             Tempatkan di kolom terpisah di samping atas, jangan dibawah artikel.
10.          Susun unsure-unsur dengan posisi, proporsi, irama, latar belakang, pilihan.

c.              Teks isi (body copy)
Digunakan untuk menerangkan produk atau maksud secara detail, lebih detail dari pada judul atau sub judul dan menjelaskan kandungan dalam prosuk. Isi pesan yang ingin disampaikan berfungsi untuk mengarahkan pembaca dalam mengambil sikap, berfikir, dan bertindak lebih lanjut. Naskah yang kreatif dapat menampilkan fakta-fakta, bagan, daya tarik dari hal yang menyenangkan atau menggelisahkan (Pujiriyanto, 2005, 41).

d.             Kata penutup (Closing word)
Kalimat pendek yang jelas, singkat, jujur, dan jernih yang bertujuan untuk mengarahkan pembaca untuk membuat keputusan (Pujiriyanto, 2005, 43).

4.             Warna
Warna merupakan getaran atau gelombang yang diterima indera penglihatan. Secara objektif atau fisik warna juga didefinisikan sebagai sifat cahaya yang dipancarkan atau secara subjektif atau fisikologis sebagai bagian dari pengalaman indera penglihatan (Sanyoto, 2005, 9). Warna akan dapat membuat kesan atau mood untuk keseluruhan gambar atau grafis. Setiap warna memiliki daya tarik yang berbeda dan dalam penggunaannya diharapkan dapat menciptakan keserasian dan membangkitkan emosi.
Secara subjektif atau psikologis penampilan warna dapat di kategorikan ke dalam tiga dimensi warna yang sangat besar pengaruhnya terhadap tata rupa, yaitu hue, value, dan chroma. Hue adalah rona atau corak warna yaitu dimensi mengenai klasifikasi warna, nama warna, dan jenis warna. Value adalah tone warna yaitu dimensi terang-gelap warna atau tua-muda warna, disebut pula “ke-terang-an” warna (brighness). Chroma adalah intensitas, yaitu dimensi tentang cerah-redup warna, cemerlang-suram warna, murni-kotor warna, disebut pula penyerapan warna (saturation). Sedangkan menurut Kusrianto (2007 46) warna merupakan pelengkap gambar serta mewakili suasana kejiwaan pelukisnya dalam berkomunikasi. Warna juga merupakan unsur yang sangat tajam untuk menyentuh kepekaan penglihatan sehingga mampu merangsang munculnya rasa haru, sedih, gembira, mood atau semangat dan lain-lain.

Terdapat lima klasifikasi warna yaitu warna primer, sekunder, intermediate, tersier, dan warna kuarter (Sanyoto, 2005, 19).
1.             Warna Primer
Warna primer disebut warna pertama atau warna pokok. Disebut warna primer karena warna tersebut tidak dapat dibentuk dari warna lain dan disebut warna pokok karena warna tersebut dapat digunakan sebagai pokok pencampuran untuk memperoleh warna-warna lain. Nama-nama warna primer tersebut, adalah:
a.             Biru, nama warna sebenarnya adalah sian (cyan), yaitu biru semu hijau. Warna cyan yang sebenarnya terdapat pada warna bahan tinta cetak.
b.             Merah, nama sebenarnya magenta, yaitu warna merah semu ungu. Warna magenta sebenarnya terdapat pada warna bahan tinta cetak.
c.              Kuning, dalam tube cat disebut lemon yellow, dalam tinta cetak disebut yellow.

2.             Warna Sekunder
Warna sekunder atau disebut warna kedua adalah warna jadian dari pencampuran dua warna primer (pokok atau warna pertama). Nama-nama warna sekunder adalah:
a.             Jingga (Orange), adalah hasil pencampuran warna merah dan kuning.
b.             Ungu (Violet), adalah hasil pencampuran warna merah dan biru.
c.              Hijau (Green), adalah hasil pencampuran warna kuning dan biru.

3.             Warna Intermediate
Warna intermediate adalah warna perantara, yaitu warna yang ada diantara warna primer dan warna sekunder pada lingkaran warna. Nama-nama warna intermediate adalah:
a.             Kuning hijau (sejenis moon green), yaitu warna yang ada diantara kuning dan hijau.
b.             Kuning jingga (sejenis deep yellow), yaitu warna yang ada diantara kuning dan jingga.
c.              Merah jingga (red/vermilion), yaitu warna yang ada diantara merah dan jingga.
d.             Merah ungu (purple), yaitu warna yang ada diantara merah dan ungu atau violet.
e.              Biru violet (sejenis blue/indigo), yaitu warna yang ada diantara biru dan ungu/violet.
f.              Biru hijau (sejenis sea green), yaitu warna yang ada diantara biru dan hijau.

4.             Warna Tersier
Warna tersier atau warna ketiga adalah warna hasil percampuran dari dua warna sekunder atau warna kedua. Nama-nama warna tersier adalah:
a.             Coklat kuning, disebut sicna mentah, kuning tersier, yellow ochre, atau olive, yaitu pencampuran warna jingga dan hijau.
b.             Coklat merah, disebut juga sicna bakar, merah tersier, burn sicna, atau red brown, yaitu pencampuran warna jingga dan ungu.
c.              Coklat biru, disebut juga sicna sepia, biru tersier, zaitun, atau navy blue, yaitu pencampuran warna hijau dan ungu.

5.             Warna Kuarter
Warna kuarter atau warna ke empat, yaitu warna hasil pencampuran dari dua warna tersier atau warna ketiga. Nama-nama warna kuarter adalah:
a.             Coklat jingga (jingga/orange kuarter) atau semacam brown adalah hasil pencampuran kuning tersier dan merah tersier.
b.             Coklat hijau (hijau kuarter) atau semacam moss green adalah hasil pencampuran biru tersier dan kuning tersier.
c.              Coklat ungu (ungu/violet kuarter) atau semacam deep purple adalah hasil pencampuran merah tersier dan biru tersier.
Selanjutnya adalah kombinasi warna. Kombinasi warna dilakukan untuk menghasilkan efek tertentu yang di inginkan. Caranya adalah dengan membuat lingkaran warna khusus dengan memasukkan unsur-unsur value (gelap-terang), temperature (hangat-dingin), dan intensitas (cerah-pucat) atau kombinasi warna-warna gelap (dark value) dan pekat (high-intensity) serta yang lainnya.
Beberapa kombinasi warna yaitu sebagai berikut:
a.             Kombinasi Monokromatik
Paduan warna monokromatis dapat menciptakan kesan tenang, anggun, dan elegan. Kuncinya adalah dengan menggunakan warna yang memiliki value serta intensitas dan sedikit gradasi. Warna-warna netral bisa menjadi aksen yang menarik. Misalnya penggunaan warna dasar abu-abu, lalu ditambah dengan warna netral lainnya sebagai aksen.
b.             Kombinasi Analog
Analog sering disebut juga warna senada, yaitu penggunaan warna yang bersebelahan pada lingkaran warna. Misalnya merah-merah orange, biru-biru violet.
c.              Kombinasi Komplementer
Komplementer adalah warna-warna yang saling melengkapi. Kombinasi warna ini terbentuk dari warna-warna yang berlawanan dan berseberangan dalam lingkaran warna. Kesan yang ditimbulkan dari warna komplementer adalah menggairahkan, hangat. Misalnya merah dengan hijau, kuning dengan orange  dan biru dengan violet.
d.             Kombinasi Kompleks
Kombinasi ini terdiri dari warna apa saja yang ada di lingkaran warna. Merah, hijau, kuning, orange, dan lainnya. Kesan yang ditimbulkan adalah menggembirakan, sebab secara otomatis warna-warna ini akan saling menyeimbangkan temperatur warna dalam mata.
5.             Teori Layout
Menurut Ambrose dan Harris (2005, 11) Layout adalah penyusunan dari elemen-elemen desain yang berhubungan ke dalam sebuah bidang sehingga membentuk susunan artistik.Hal ini bisa juga disebut manajemen bentuk dan bidang. Tujuan utama layout adalah menampilkan elemen gambar dan teks agar menjadi komunikatif dalam sebuah cara yang dapat mempermudah pembaca menerima informasi disajikan. Prinsip Layout menurut Lincy dalam Kusrianto (2007, 277) ada 5 buah prinsip utama dalam desain yaitu :
a.             Proporsi
Kesesuain antara ukuran halaman dengan isinya. Dalam dunia tata layout, dikenal ukuran kertas atau bidang kerja yang paling populer, yaitu yang dikenal dengan ukuran letter, 8,5” x 11”.
b.             Keseimbangan (Balancing)
Merupakan suatu pengaturan agar penempatan elemen dalam suatu halaman memiliki efek seimbang.Terdapat dua macam keseimbangan, yaitu keseimbangan formal atau simetris dan informal/asimetris.
c.              Kontras (fokus)
Fokus merupakan pengatur elemen-elemen desain yang dapat memberikan perhatian yang memusat pada salah satu obyek.Fokus atau pusat perhatian selalu diperlukan dalam suatu komposisi untuk menunjukkan bagian yang penting dan diharapkan menjadi perhatian utama.Penjagaan keharmonisan dalam membuat suatu fokus dilakukan dengan menjadikan segala sesuatu yang berada di sekitar fokus mendukung fokus yang telah ditentukan.
d.             Irama
Irama atau ritme adalah penyusunan unsur-unsur dengan mengikuti suatu pola penatahan tertentu secara teratur agar didapatkan kesan yang menarik.
e.              Unity
Merupakan hubungan antara elemen-elemen desain yang semula berdiri sendiri serta memiliki ciri khas yang disatukan menjadi suatu yang baru dan memiliki fungsi baru yang utuh. Dasar bangunan bidang-bidang atau blok dalam suatu halaman cetak secara umum dapat dibagi menjadi empat elemen, yaitu headlines, teks, gambar, dan yang tidak kalah pentingnya adalah bidang kosong (Kusrianto, 2007, 288).Menurut Kursrianto (2007, 289), menunjukan sembilan macam kemungkinan tampilan layout halaman, yaitu:

1.             Style Conventional
Menampilkan kesan padat dengan pilihan teks yang berat, headlines diletakkan disebelah kiri, sedangkan gambar diletakkan di bawah.Style ini terkesan sederhana dan formal.Publikasi-publikasi yang bersifat resmi masih sering menggunakan style ini.

2.             Style Classic
Memberikan kesan yang sederhana, dimana teks dibagi menjadi dua kolom di setiap halaman.Headlines diletakkan di tengah atas dan gambar atau foto diletakkan di tengah halaman, di antara dua kolom teks.


3.             Style Modern
Style ini menggunakan susunan teks melebar, dimana cukup ada satu kolom pada satu halaman.Oleh karena itu, dipergunakan leading (jarak antar baris) yang lebih lebar.Demikian juga jarak antara karakter yang dilonggarkan untuk memudahkan pembaca. Headlines pun diatur dengan style berjarak karakter lebar bahkan ekstra lebar jika perlu. Gambar dimuat dalam dua halaman dengan posisi yang berlawanan di bagian tengah masing-masing halaman.

4.             Style Technical
Bentuk layout yang menampakan gaya teknis dengan blok-blok berbentuk siku dengan garis antara kolom. Digunakan banyak bidang kosong untuk memberikan kesan yang bersih dan kuat.Bidang-bidang yang berisi teks maupun gambar diletakan secara simetris.

5.             Style Aggresive
Headlines dengan teks berukuran besar dan bergaris bawah serta menggunakan jarak antar baris yang lebih lebar.Gambar dimuat disisi-sisi halaman dengan membentuk garis horizontal, yang tampil secara ekslusif dan berperan sebagai ilustrasi atau sekedar dekorasi ruangan.

6.             Style Juvenline
Juvenline adalah istilah buku untuk anak-anak, walaupun style ini tidak dimaksudkan untuk anak-anak.Layout dibuat dengan kesan meriah dengan memasang gambar secara tersebar.Di antara kolom diberi garis pemisah dengan warna yang lemah.Headlines dan sub headlines disusun menggunakan huruf kapital berukuran lebih besar untuk menarik perhatian.

7.             Style Youthful
Style youthful memiliki kesan lucu, main-main, serta menyenangkan. Pada style ini digunakan unsur gambar serta pilahan font yang mendukung. Penulisan headlines dilakukan menggunakan huruf dengan berbagai ukuran.

8.             Style Natural
Memiliki susunan yang elegan menggunakan teks yang berspasi lebar. Jarak antara headlines dengan body teks dibuat cukup jauh. Bidang gambar ditampilkan dalam bentuk oval. Untuk memberikan kesan tertib dan rapi, masing-masing bidang cetak diberi garis border, sedangkan pada bidang gambar digunakan latar belakang segi empat menggunakan ukuran yang sama dengan bidang teks di sebelahnya. Antara garis border dengan teks diberi bidang kosong yang cukup.

9.             Style Prestigious
Hal yang menonjol pada style ini adalah penggunaan bidang kosong yang cukup luas untuk menciptakan keluwesan (gracefull) dan fokus. Penggunaan Drop cap memberikan kesan awal anggun pada halaman. Pemasangan headlines ditempatkan di halaman tersendiri.
3.3          Media
Menurut Pujiriyanto (2005, 15), media adalah sarana komunikasi untuk penyampaian pesan kepada konsumen dalam bentuk cetak maupun audio visual.
Landasan pemikiran dalam pemilihan media adalah kemampuan untuk menjangkau massa, kapasitas informasi yang dapat diemban media.

3.4          Jenis Media
Menurut Madjadikara (2010, 11), jenis media yang diproduksi biasanya dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yaitu media cetak dan media elektronik.
1.             Media Cetak
Media cetak adalah kumpulan berbagai media informasi yang dibuat dan disampaikan kepada sasaran melaui tulisan (cetakan) dan seringkali disertai gambar sehingga dapat dilihat dan dibaca. Informasi dari media cetak hanya akan sampai kepada sasaran apabila sasaran melihat atau membacanya. Dengan demikian sasaran harus aktif. Dilihat dari segi keefektifan komunikasi, khususnya komunikasi pemsaran atau periklanan. Kelebihan media cetak adalah dapat menampilkan gambar dan informasi yang lebih rinci dan lebih mudah disimpan atau didokumentasikan untuk keperluan kudian hari.
2.             Media Elektronik
Media elektronik terbagi dalam dua kelompok besar, yaitu media yang hanya bisa didengar (audio) seperti radio dan media yang selain dapat didengar dan juga dilihat (audio-visual) seperyi televisi. Media elektronik membuat sasaran tidak perlu aktif. Pesan tetap sampai pada saat sasaran sengaja atau tidak sengaja mendengar atau melihat acara atau program radio ataupun televisi.

3.5          Promosi
Menurut Fuad dkk (2000, 130), promosi merupakan kegiatan-kegiatan yang secara aktif dilakukan perusahaan untuk mendorong konsumen membeli produk yang ditawarkan.

3.6          Tujuan Promosi
Menurut Perreault dkk (2009, 76) tujuan dari adanya promosi ialah:
1.             Menginformasikan
Dengan adanya promosi konsumen dapat mengetahui informasi menegenai produk yang ditawarkan suatu perusahaan dapat memperlihatkan bahwa produknya memenuhi kebutuhan konsumen.
2.             Membujuk
Selain menginformasikan kepada konsumen tentang produk yang dipasarkan, membujuk juga penting dalam promosi. Membujuk merupakan usaha untuk mendemonstrasikan mengapa suatu merek lebih baik dibandingkan dengan yang lainnya sehingga konsumen akan membeli, dan terus membeli produk yang dipasarkan.
3.             Mengingatkan
Mengingatkan konsumen akan kepuasan yang pernah diperoleh sehingga dapat mencegah konsumen berpindah merek.

3.7      Media Visual
Media Visual Menurut Daryanto (1993, 27) adalah semua alat peraga yang digunakan dalam proses belajar yang bisa dinikmati lewat panca-indera mata Media visual (image atau perumpamaan) memegang peran yang sangat penting dalam proses belajar.
Adapun beberapa media visual yang akan dipaparkan pada laporan ini yaitu :
1.             Flyer  adalah surat edaran, atau leaflet, merupakan bentuk iklan kertas ditujukan untuk distribusi yang luas dan biasanya dipasang atau didistribusikan di tempat umum.
2.             Brosur adalah publikasi resmi perusahaan berbentuk cetakan, yang berisi informasi mengenai suatu produk, layanan, atau program, yang ditujukan kepada pasar sasaran (target market) atau khalayak sasaran (target audiens) tertentu, di bagikan secara cuma-cuma alias gratis dengan tujuan untuk memperkenalkan secara lebih terperinci mengenai produk, layanan, program tersebut untuk membantu upaya pemasaran atau marketing public relations.
3.             X-banner adalah media yang digunakan untuk menyampaikan informasi, berbentuk banner dengan konstruksi penyangga berbentuk "X" sehingga banner bisa berdiri sendiri.
4.             Neonbox adalah media yang berupa kotak berisi lampu-lampu tabung dengan permukaan yang ditampilkan bersifat datar dan dapat meneruskan sinar. Permukaan neon box menampilkan gambar produk yang diiklankan, dengan menggunakan media-media antara lain digital printing pada colleybrite, panaflek, transparency film, atau dengan sticker.
3.7          Software

Software yang digunakan dalam membuat rancangan media promosi yaitu adobe photoshop CS3, menurut Gunawan (2009, 5), Adobe Photoshop merupakan salah satu aplikasi untuk memanipulasi gambar yang sangat banyak penggunanya. Adobe Photoshop selain digunakan oleh professional fotogafi, web designer, image editor, fotografer dan para desainer grafis juga digunakan dalam insdustri percetakan. Adobe Photoshop CS3 merupakan update atau pengembangan dari adobe photoshop versi sebelumnya agar lebih mudah dipakai dan lebih lengkap.




DAFTAR PUSTAKA
Ananda, Maya. 1978. Seluk Beluk Reklame Dalam Dunia Perdagangan. Jakarta : Mutiara
Ambrose, Gavin & Paul Harris. 2005. Basics Design : Layout. AVA Publishing SA
Daryanto, 1993. Media Visual untuk Pengajaran Teknik. Bandung : Tarsito
Fuad, M dkk, 2000. Pengantar Bisnis. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Gunawan, Wawan. 2009. Teknik Menjadi Desainer Profesional Adobe Photoshop CS3. Bandung : Yrama Widya
Kusrianto, Adi. 2007. Pengantar Desain Komunikasi Visual. Yogyakarta : Andi
Laksana dan Suryawan. 2004. Teori Grafis Komputer. Yogyakarta : Andi
Madjadikara, A. 2010. Bagaimana Biro Iklan Memproduksi Iklan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Perreault, J dkk. 2009. Pemasaran Dasar Pendekatan Manajemen Global. Jakarta : Salemba Empat
Pujiriyanto. 2005. Desain Grafis Komputer (Teori Grafis Komputer). Yogyakarta : Andi
Sanyoto, Sadjiman Ebdi. 2005. Dasar-Dasar Tata Rupa & Desain (Nirmana). Yogyakarta : Arti Bumi Intaran
Santosa, Sigit. 2002. Advertising Guide Book Jakarta : PT. Gramedia Pustaka
Suryanto, M. 2004. Analisis & Desain Aplikasi Multimedia untuk Pemasaran. Yogyakarta : Andi