BAB I PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Agama Hindu tidak didirikan oleh orang tertentu,
pemikiran, atau inkarnasi tertentu. Dengan demikian, tradisi Agama Hindu
bukanlah bersifat tunggal dan merupakan sistem teori, prinsip, atau praktek
yang sederhana. Hal ini terdiri dari berbagai pemikiran dan pengalaman yang
berbeda yang telah terkumpulkan selama lebih dari ribuan tahun oleh para Rsi
dan orang-orang suci.
Filsafat, agama, dan ilmu saling berkaitan. Walaupun
agama berlandaskan kepercayaan, dan filsafat berdasarkan pertimbangan, akan
tetapi tidak bertentangan, sebab ditinjau dari sudut tujuannya, sama-sama
mencari kebenaran. Agama Hindu pun tak terbatas dari Filsafat yang dikenal
dengan nama Darsana (Filsafat Hindu).
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Filasafat dan Wedanta
Pengertian filsafat
berbeda dengan ilmu pengetahuan dan berbeda pula dengan pengertian agama.
Menurut Drs.S.P. Siagian, MPA. dalam bukunya Filsafat Administrasi mengatakan
“kata filsafat’ berasal dari bahasa Yunani, dari kata “Philllos” berarti gemar,
senang atau cinta, dan kata “Sophia” artinya kebijaksanaan. Karena itu filsafat
berarti cinta kepada kebijaksanan. Seseorang menjadi bijaksana karena berusaha
mendalami hakikat sesuatu. Dengan demikian filsafat berarti berusaha mengetahui
tentang sesuatu dengan sedalam-dalamnya, baik mengenai hakekat adanya sesuatu
fungsi, ciri-cirinya,kegunaannya, masalahnya serta pemecahan terhadap
masalah-masalah itu.[3]
Menurut Kamus Umum
Bahasa Indonesia yang disusun oleh W.J.S. Poerwadarminta, Falsafat berati
pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai sebab-sebab, asas-asas
hkum, dsb. daripada segala yang ada dalam alam semesta ataupun mengenai
kebenaran dan arti “adanya” sesuatu.[4]
Selain itu Prof.Ir.R.
Pudjawijatna, dalam bukunya Pembimbing ke arah Filsafat, juga menegaskan arti
filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab-sebab yang sedalam-dalamnya
bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka. Secara garis besar perkembangan
filsafat di dunia dibagi menjadi 2 kubu, yakni filsafat yang mengacu ke Timur
(Asia) dan filsafat yang mengacu pada Barat (Eropa).
Dari kedua kubu
filsafat tersebut, yang pertama berkembang adalah filsafat yang berasal dari
Timur. Filsafat Timur sendiri sebenarnya terdiri dari tiga cabang yang
didasarkan pada periodeisasi dan wilayahnya, yaitu filsafat India, filsafat
Cina, dan filsafat Arab. Filsafat India mengarah pada Hinduisme dan Budhaisme,
filsafat Cina mengarah kepada Taoisme dan Konfusianisme, sedangkan filsafat
Arab, tentu saja mengarah kepada Islam. Mengacu pada periodesasi filsafat
Timur, filsafat yang berkembang pertama kalinya adalah aliran filsafat India
yang mengarah kepada Hinduisme dan Budhaisme.
Adapun Wedanta berasal
dari kata “weda” dan “anta”, yang artinya bagian terakhir dari Weda (Uttara
Mimamsa) atau selesainya Weda. Nama ini adalah nama yang diberikan pada ajaran
Upanisad. Upanisad sendiri tidak terorganisasi dan filsafat yang sistematis
agar dapat dianalisis dengan lebih mudah.[5] Wedanta merupakan kesimpulan dan
perluasan tafsir Upanisad. Didirikan oleh Badarayana pada 500 M.[6]
Didalamnya dibicarakan apa yang disebut “Jnana
Marga”, yang artinya “Jalan Ilmu”. Hal itu menunjukkan bahwa Wedanta itu adalah
suatu jalan kelepasan dengan mempergunakan ilmu (pengetahuan).[7]
Kitab Upanisad juga
disebut dengan Wedanta, karena kitab-kitab ini mewujudkan bagian akhir dari
Weda yang bersifat menyimpulkan. Upanishad juga yang sudah dikenal sebagai
Wedanta, sudah ribuan tahun menjadi sumber inspirasi filsafat religius umat
Hindiu. Kata Upanishad memiliki arti duduk dekat guru atau mendekatkan diri
kepada Tuhan. Upanishad merupakan ajaran rahasia dari Weda yang oleh para guru
dinamakan dengan istilah Wedopanisad. Jumlah kitab Upanishad adalah 108 buah.
Walaupun hanya diterima
sebagai “sruti”, yaitu sebagai bagian dari pewahyuan Weda, status Upanishad
bukan menyampaikan kearifan manusia, namun menyediakan kebenaran yang
membebaskan.[8] Ada tiga faktor yang meyebabkan Upanishad disebut dengan
Wedanta, yaitu:
1. Upanishad adalah hasil karya terakhir
dari zaman Weda.
2. Pada zaman Weda program pelajaran yang
disampaikan oleh para Resi kepada sisyanya, Upanishad juga merupakan pelajaran
terakhir. Para Brahmacari pada mulanya diberikan peajaran Shamhita yakni
koleksi syair-syair dari zaman Weda. Kemudian dilanjutkan dengan pelajaran
Brahmana yaitu tata cara untuk melaksanakan upacara keagamaan
3. Upanishad merupakan kumpulan syair-syair
yang terakhir daripada zaman Weda. Oleh karena itu Upanishad adalah inti dari
Weda atau Wedanta.[9]
Ada yang menyebutkan
bahwa sebutan Wedanta itu diartikan sebagai suatu sistem filsafat yang
ajarannya didasarkan pada kitab Upanishad. Karena banyaknya kitab Upanishad dan
untuk memudahkan sistem pengajarannya, maka Badarayana mencoba menyusun secara
sistematis pengajaran Upanishad dalam sebuah Sutra yang dinamakan Wedanta
Sutra. Kitab ini terbagi atas empat bab yang setiap babnya memuat hal – hal
sebagai berikut :
1. Menyatakan bahwa Brahman adalah realitas
yang tertinggi dan semua ayat Weda mengandung Brahman di dalamya.
2. Menyatakan bahwa semua ajaran yang tidak
sesuai dengan Weda tidak akan dapat dipertahankan.
3. Membicarakan syarat – syarat untuk
menyatukan diri dengan Brahman.
4. Membicarakan pahala dari seseorang yang
telah mendapatkan pengetahuan tentang Brahman atau Brahma Widhya.
Kitab Brahma Sutra
(Wedanta Sutra), Upanisad dan Bhagawadgita, ketiga kitab tersebut menjadi dasar
filsafat Wedanta.
2.2 Pokok-Pokok
Ajaran Wedanta
Ajaran Vedanta, sering
juga disebut dengan Uttara Mimamsa yaitu penyelidikan yang kedua, karena ajaran
ini mengkaji bagian Weda, yaitu Upanishad. Kata Vedanta berakar kata dari
Vedasya dan Antah yang berarti akhir dari Weda. Sumber ajaran ini adalah kitab Vedantasutra
atau dikenal juga dengan nama Brahmasutra (Aphorisme yang berhubungan degan
Brahman). Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, pelopor ajaran ini adalah
Maharsi Vyasa, atau dikenal juga dengan nama Badarayana atau Krishna Dwipayana.
Brahma Sutra terdiri
dari 550 aphorisme dan ringkasan dari filsafat dasar dari Upanishad dalam empat
treatise (Adhyaya). Dengan adanya pandangan dari para cendikiawan, dalam Brahma
Sutra merefleksikan filsafat Chandogya Upanisad lebih dari Upanisad yang lain.
Aphorisme dalam Brahma Sutra sangatlah pendek dan beberapa diantaranya hanya
terdiri dari satu atau dua kata. Aphorisme ini tidak dapat diketahui artinya
tanpa pembahasan. Komentar tradisional yang mengandung dasar dari berbagai
sistem filsafat, yang beberapa diantaranya memberikan interpretasi diametris
yang berlawanan dari sutra kecil yang sama.
Untuk memenuhi sebagai
pendiri aliran Vedanta dengan julukan “master” (acarya), seorang pemimpin
religius harus menulis komentar terhadap teks-teks utama Upanisad, Bhagavad-ghita,
dan Vedanta Sutra. Seperti yang telah disebutkan diatas, ada 3 sekolah utama
filsafat Wedanta yang masing-masingnya memiliki tokoh dan pendapat yang
berbeda. Perbedaan dasar dari sistem ini adalah kepercayaan mereka untuk
pertain dengan hubungan inter antara Brahman, dunia, dan atman.
1.
Adwaita Wedanta
Pemikiran Adwaita
didasarkan pada interpretasi Wedanta yang dibuat oleh Adi Sankaracarya seorang
Rsi dan juga seorang cendekiawan terkemuka, yang sering disebut dengan seorang
ahli metafisika Hindu yang jenius. Beliau hidup kira-kira 788-820 SM yang
terlahir dalam keluarga Brahmana di kota Coshin, India Selatan. Saat ia berumur
delaan tahun, ia sudah menguasai semua kitab Hindu. Ia menjadi seorang yang
religius, guru spiritual juga pereformasi dan pendiri dari empat Monasteri di
India, diantaranya di Badrinatha di Himalaya, di Dwarika di Pantai Barat,di
Puri di Pantai Timur, dan yang terakhir di Sringeri di daerah Mysore. Biara ini
sangat terkenal dan merupakan pusat pembelajaran dan tempat suci di India.
Adwaita adalah sistem
nondualistis. Menurut Sankara, Atman sama dengan Brahman, yakni esensi
subjektivitas yang bersatu dengan esensi dunia. Dunia seluruhnya tergantung
pada Brahman, tetapi Brahman tidak tergantung pada dunia. Brahman adalah dasar
seluruh pengalaman, ia tidak sama dengan dunia, tidak berbeda dengan dunia,
tidak empiris, tidak objektif, bukan tidak ada, sangat berbeda dari yang lain.
Moksa atau pembebasan diri dicapai dengan praktek devosi dan mewudjudkan
nilai-nilai etis. Ini dicapai selama orang hidup.
Menurut Adwaita
Wedanta, semua makhluk baik yang hidup maupun yang tidak hidup tiada lain
adalah Brahman. Brahman adalah kenyataan mutlak dan tidak ada kenyataan yan
lain selain Brahman. Dalam kata-katanya Sankaracarya mengatakan:
“Brahman satyam jagan
mithya, jivo Brahmaiva naparah”
“Brahman sendiri adalah
kebenaran, dalam dunia yang tidak nyata ini. Atman (Jiwa individu) adalah hanya
Brahman dan bukan yang lain”.
2.
Wishistadwaita
Ramanujacarya
(1055-1137) adalah tokoh utama yang menguraikan pemikiran filsafat Wedanta. Ia
terlahir dari keluarga Brahmana di Bhutapuri di India Selatan. Ia adalah orang
suci dan seorang cendekiawan dan mengajarkan pencerahan suci di Srirangam dekat
dengan Tiruchirappali saat ini.
Wishistadwaita menekankan perbedaan dalam non
dualisme Sankara. Dunia Diri, Brahman itu riil, tapi dunia dan diri tergantung
pada Brahman. Diri memiliki eksistensi abadi, dunia atau materi diri dan
Brahman membentuk satu kesatuan, tetapi diri dan dunia hanya sebagai tubuh
Brahman. Diluar Brahman tidak ada apa-apa. Itu sebabnya Ramanuja disebut
nondualisme dengan perbedaan yakni Brahman memiliki dua bentuk, diri dan
materi.setinggi apapun manusia merealisasikan diri, Brahman masih lebih tinggi.
Manusia harus selalu menghormati Brahman, itulah sebabnya Ramanuja menekankan aspek
kebaktian pada Brahman.
Jadi, pandangan
Ramanuja ialah bahwa Brahman adalah kesatuan organis yang dibentuk oleh
identitas (jati diri) yang terdiri dari bagian-bagian. Ia bukan sesuatu yang
abstrak tetapi konkrit dengan dibentuk oleh objek-objek yang bermacam-macam
dari kesadaran dan serempak juga kesadaran itu sendiri. Kesatuan organis inilah
yang disebut Ramanuja Brahman, atau Dewa (Ishvara).
3.
Dwaita
Pemikiran dari filsafat
ini dikembangkan oleh Madhvacarya (1199-1278) SM, yang lahir di Udipi dekat
dengan Managlore di pantai Barat India. Ia adalah vaisnava (pemuja Dewa Wisnu)
seorang yang suci dan pereformasi keagamaan. Ia mengembangkan sistem filsafat
yang mengkombinasikan dualisme dengan theisme da dikenal dengan nama Dwaita,
“filsafat dari keduanya”.
Menurut Madhva,
pokok-pokok ajaran filsafatnya adalah perbedaan (beda). Sistem ini disebut juga
realistis karena mengakui bahwa dunia ini adalah nyata bukan maya. Akhirnya
sistem ini juga bersifat theistis, karena menerima adanya Tuhan yang pribadi
sebagai satu-satunya kenyataan yang berdiri sendiri (swatantra) dengan kata
lain Madhva mengakui/percaya dengan adanya manifestasi dari Tuhan yang beraneka
ragam. Dasar ajaran Madhva adalah mengakui adanya kenyataan yang beraneka ragam
di dunia ini, semuanya mempunyai ciri dan sifat tersendiri, sehingga
menimbulkan perbedaan-perbedaan. Menurutnya, di dunia ini ada lima macam
perbedaan-perbedaan, yaitu:
Ø Perbedaan antara Tuhan dengan jwa,
Ø Perbedaan antara jiwa dengan jiwa yang
lainnya,
Ø Perbedaan antara Tuhan dengan benda,
Ø Perbedaan antara jiwa dengan benda,
Ø Perbedaan antara benda yang satu dengan benda
yang lainnya.
Semua itu berbeda
secara mutlak, sekalipun perbedaan itu tidak berarti bahwa semuanya tidak
saling bergantungan.
Penemuan besar pada
masa Upanishad adalah apa yang biasa disebut sebagai sintesis sebagai
Atman-Brahman, yakni identifikasi jiwa individual (Atman) dengan dasar semesta
alam (Brahman).