Sabtu, 07 Juni 2014

MAKALAH "TRADISI MAKEPUNG DI JEMBRANA, BALI"

BAB I
PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang Masalah
Tradisi makepung merupakan suatu aset budaya bangsa yang patut kita lestarikan khususnya di Kabupaten Jembrana Bali.
Hal tersebut dikarenakan tradisi makepung akan cepat tenggelam jika pemerintah ataupun masyarakat meninggalkan tradisi tradisional itu, karena adanya kemajuan di bidang teknologi yang dapat menyaingi tradisi makepung.
Selain itu , tradisi tersebut itu bisa punah, bahkan Kabupaten Jembrana yang dikenal sebagai bumi makepung juga akan mulai memudar kemasyurannya sedikit demi sedikit.
Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat khususnya Kaupaten Jembrana patut menjaga dan melestarikan tradisi tersebut. Bahkan kalau bisa di kembangkan sampai dikenal dikalangan mancanegara.
Karena hal tersebut bisa mendatangkan banyak wisatawan baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri, jika hal tersebut berhasil, maka Kabupaten Jembrana akan semakin dikenal oleh dunia dan dapat meningkatkan perekonomian di Kabupaten Jembrana.

1.2       Rumusan Permasalahan
Berdasarkan penelitian yang telah saya lakukan, maka adapun beberapa permasalahan yang dapat penulis angkat adalah sebagai berikut :
1.      Apa itu “Makepung” ?
2.      Kapan saja diadakannya perlombaan “Makepung” ?
3.      Bagaimana cara menentukan pemenang dalam prlombaan “Makepung” ?
4.      Bagaimana cara melaksanakan “Makepung” ?
5.      Teknik apa saja yang digunakan dalam “Makepung” ?


1.3       Tujuan Penelitian
Berdasarkan penelitian yang telah saya lakukan, maka adapun tujuan dari penelitian ini yaitu sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui apakah yang dimaksud dengan tradisi “Makepung” yang ada di daerah Jembrana.
2.      Untuk mengetahui kapan dan dimana perlombaan makepung bisa dilakukan.
3.      Untuk mengetahui cara menentukan pemenang dalam perlombaan “Makepung”.
4.      Untuk mengetahui bagaimana tata cara dalam perlombaan “Makepung”.
5.      Untuk mengetahui teknik – teknik didalam perlombaan “Makepung”.
1.4       Manfaat Penelitian
Berdasarkan penelitian yang telah saya lakukan, maka adapun manfaat dari penelitian ini yaitu sebagai berikut :
1.      membantu masyarakat bagaimana sejarah dari tradisi “Makepung”.
2.      Agar masyarakat khususnya di Daerah Jembrana bisa melestarikan tradisi makepung supaya tidak hilang.
3.      Agar masyarakat khususnya di Daerah Jembrana tetap melaksanakan tradisi makepung.
1.5       Hipotesis Penelitian
Seperti kita ketahui “Tradisi Makepung” telah kita kenal dari dulu saat mereka “Mekajang” (mengangkut hasil panen dari sawah ke rumah). Saat berangkat ke sawah, pedati yang belum terisi muatan hasil panen akan terasa lebih ringan ditarik oleh pasangan kerbau tersebut. Di sinilah sang kusir pedati mulai saling memacu kerbaunya hingga iring-iringan tersebut berubah menjadi ajang balap pedati menuju ke lokasi panen. Balapan pedati pasca panen inilah yang kemudian menginspirasi adanya “Tradisi Makepung”di Jembrana. Namun dalam makepung, alat untuk memukul kerbau tidak lagi menggunakan pecut atau cemeti, tetapi memakai tongkat rotan bergerigi yang terbuat dari paku-paku tajam yang ditancapkan pada rotan tersebut. Pedati yang digunakan juga bukan pedati besar seperti saat mengangkut hasil panen, melainkan pedati kecil yang hanya cukup untuk sang joki.
     BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Makepung atau balap kerbau, atau oleh orang bule sering disebut bullrace ini, merupakan balapan yang terdiri dari dua sampai tiga pasang kerbau jantan yang masing-masing menarik satu pedati kecil. Menurut kata sesepuh di daerah saya, tradisi ini bermula dari kegiatan nenek moyang jaman dulu saat mereka mekajang (mengangkut hasil panen dari sawah ke rumah).
Saat berangkat ke sawah, pedati yang belum terisi muatan hasil panen akan terasa lebih ringan ditarik oleh pasangan kerbau tersebut. Di sinilah sang kusir pedati mulai saling memacu kerbaunya hingga iring-iringan tersebut berubah menjadi ajang balap pedati menuju ke lokasi panen. Balapan pedati pasca panen inilah yang kemudian menginspirasi adanya tradisi makepung di Jembrana.
Namun dalam makepung, alat untuk memukul kerbau tidak lagi menggunakan pecut atau cemeti, tetapi memakai tongkat rotan bergerigi yang terbuat dari paku-paku tajam yang ditancapkan pada rotan tersebut. Pedati yang digunakan juga bukan pedati besar seperti saat mengangkut hasil panen, melainkan pedati kecil yang hanya cukup untuk sang joki.

  

BAB III
METODOLOGI
3.1       Pendekatan Dan Jenis Penelitian
1. Pendekatan dengan cara mewawancarai narasumber dan menggunakan metode wawancara serta mencatat informasi yang peneliti amati selama penelitian.
2.      Jenis Penelitian dengan metodo observasi dan metodo wawancara.
3.2       Kehadiran Penelitian
      Peneliti yang meneliti tentang “Tradisi Makepung” di Jembrana hanya satu orang yaitu :
                        Nama               : I PUTU PRANG WIPRAJA
                        Kelas               : XII BAHASA
                        NIS                 : 1187
3.3           Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian menunjukkan pada pengertian lokasi situasi kebudayaan, yang dicirikan oleh adanya tiga unsur antara lain; tempat, seni, dan kegiatan. Jadi dengan demikian yang dimaksud lokasi penelitian disini adalah (1) dari unsur tempat, yang merupakan lokasi berlangsungnya penelitian yakni di desa pakraman Delod Brawah, Kecamatan Mendoyo Kabupaten Jembrana. (2) unsur seni, yang merupakan bentuk seni dalam kebudayan. (3) unsur kegiatan dimaksudkan prosesi “Tradisi Makepung” di desa Delod Brawah.
            Penelitian terhadap “Tradisi Makepung” ini peneliti mengambil lokasi di desa Delod Brawah, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana. Desa ini dipilih dengan alasan dan pertimbangan, setelah mengamati pelaksanaan Makepung tersebut yang dilakukan secara turun temurun.




3.4              Rencana Tindakan
1.      Memilih masalah,
2.      Merumuskan masalah,
3.      Merumuskan anggapan dasar,
4.      Memilih pendekatan,
5.      Menentukan sumber data,
6.      Menentukan dan menyusun instrument,
7.      Mengumpulkan data,
8.      Analisis data,
9.      Menarik kesimpulan,
10.  Membuat karya ilmiah.

3.5              Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan beberapa metode  yaitu; metode observasi, metode wawancara, metode pencatatan dokumen.
A.    Metode Observasi
Metode observasi adalah metode pengumpulan data di mana peneliti mencatat informasi sebagaimana yang peneliti amati selama penelitian. Penggunaan metode observasi difokuskan pada pengamatan terhadap pelaksanaan tradisi “Makepung”. Metode observasi merupakan alat pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diamati. Pengamatan ini diikuti dengan pencatatan segala hal yang dianggap penting untuk menunjang penelitian. Pengamatan (observasi) adalah teknik pengumpulan data di mana peneliti mencatat informasi sebagaimana yang mereka saksikan selama penelitian. Penyaksian terhadap peristiwa-peristiwa itu bisa dengan melihat, mendengar dan merasakan, yang kemudian seobyektif mungkin.




B.     Metode Wawancara
Teknik wawancara atau interviewer dapat dilakukan melalui dua cara yaitu
1.                  Interview Bersetruktur
Interview berstruktur merupakan interview yang di mana peneliti ketika melaksanakan tatap muka dengan responden menggunakan pedoman wawancara yang telah disiapkan terlebih dahulu.
2.                  Interview Mendalam
Interview mendalam merupakan suatu cara mengumpulkan data atau informasi dengan cara langsung bertatap muka dengan informan, dengan maksud mendapatkan gambaran lengkap tentang topik yang diteliti. Wawancara mendalam dilakukan terhadap orang-orang yang dianggap tahu dan menguasai permasalahan yang hendak diteliti. Untuk mengarahkan kegiatan wawancara ini dipergunakan pedoman wawancara. Wawancara mendalam dalam penelitian ini dilakukan terhadap beberapa informan, yaitu; (Bendesa Adat, dan orang yang melakukan tradisi “Makepung). Wawancara mendalam dilakukan secara intensif dan berulang-ulang. Pada penelitian kualitatif, wawancara mendalam menjadi alat utama yang dikombinasikan dengan observasi partisipasi. Wawancara yang dilakukan secara bebas, bebas dalam artian tidak berstruktur pertanyaan-pertanyaan yang akan disajikan.
            Dalam penelitian ini yang menjadi pihak pewawancara adalah peneliti sendiri yang akan mengajukan beberapa pertanyaan yang terkait dengan tradisi “Makepung” yang dilaksanakan oleh warga desa Delod Brawah. Sedangkan yang menjadi pihak responden atau yang diwawancarai adalah para tokoh masyarakat desa Delod Brawah, warga yang melaksanakan tradisi “Makepung”.




3.6       Indikator Kerja
Ø  Dapat mengerti tentang tata cara melaksanakan tradisi “Makepung”.
Ø  Dapat memahami bagaimana cara melestarikan tradisi “Makepung”.
Ø  Dapat menjaga tradisi “Makepung” dan bisa memperkenalkan tradisi “Makepung” secara luas.


  
BAB IV
PAPARAN DATA DAN PEMBAHASAN
4.1       Pengertian Makepung
Kabupaten Jembrana adalah Kabupaten yang terletak di Bali Barat, masyarakatnya adalah agraris yang terkenal dengan organisasi yang disebut Subak yaitu organisasi yang mengatur tentang pengairan di sawah. Masyarakat petani dalam melakukan aktifitas pertanian di sawah dengan memanfaatkan alat-alat tradisional yang paling populer disebut bajak. Dalam pengolahan tanah dibagi dalam tahapan-tahapan kegiatan yaitu untuk menggemburkan tanah memakai bajak tenggala.
Untuk membersihkan tanah dari gulma-gulma memakai bajak jangkar, untuk melumatkan tanah menjadi lumpur memakai bajak lampit slau, dan terakhir untuk menghaluskan tanah memakai bajak plasah.Setelah permukaan tanah lumpur tersebut halus baru ditanami padi bulih (tanaman pohon padi yang masih muda), yang mana dalam proses aktifitas pertanian di sawah ini masyarakat Bali menerapkan sistim kerja ngajakan (kerja gotong royong/bekerja saling bantu membantu tanpa imbalan jasa). Untuk menarik bajak ini dipakai kerbau dua ekor berpasangan, yang dituntun oleh seorang Sais / Joki yang duduk di atas bajak tersebut.
Makepung yang dalam bahasa Indonesia berarti berkejar-kejaran, adalah tradisi berupa lomba pacu kerbau yang telah lama melekat pada masyarakat Bali, khususnya di Kabupaten Jembrana. Makepung atau balap kerbau, atau oleh orang bule sering disebut bullrace ini, merupakan balapan yang terdiri dari dua sampai tiga pasang kerbau jantan yang masing-masing menarik satu pedati kecil.Menurut kata sesepuh di daerah saya, tradisi ini bermula dari kegiatan nenek moyang jaman dulu saat mereka mekajang (mengangkut hasil panen dari sawah ke rumah).
Saat berangkat ke sawah, pedati yang belum terisi muatan hasil panen akan terasa lebih ringan ditarik oleh pasangan kerbau tersebut. Di sinilah sang kusir pedati mulai saling memacu kerbaunya hingga iring-iringan tersebut berubah menjadi ajang balap pedati menuju ke lokasi panen. Balapan pedati pasca panen inilah yang kemudian menginspirasi adanya tradisi makepung di Jembrana.
Dalam makepung, alat untuk memukul kerbau tidak lagi menggunakan pecut atau cemeti, tetapi memakai tongkat rotan bergerigi yang terbuat dari paku-paku tajam yang ditancapkan pada rotan tersebut. Pedati yang digunakan juga bukan pedati besar seperti saat mengangkut hasil panen, melainkan pedati kecil yang hanya cukup untuk sang joki.
4.2       Diadakannya Makepung
Atraksi Mekepung dilaksanakan setiap hari Minggu dan dapat disaksikan mulai dari bulan Juni sampai dengan bulan Oktober yaitu berupa latihan dan sepuluh kali pertandingan dalam bentuk pertandingan lokal, pertandingan perebutan piala Bupati Cup (Bulan Agustus) dan pertandingan perebutan Piala Gubernur Cup (Bulan Oktober).
Sirkuit Mekepung di jalan yang ada di sawah untuk pertandingan lokal ada di Dlod Brawah, Mertasari Loloan Timur, Tegal Berkis Desa Banyubiru, Temuku Aya Desa Tegalcangkring dan Kaliakah.
Sedangkan sirkuit Mekepung untuk pertandingan Bupati Cup dan Gubernur Cup ada di sirkuit Mekepung Desa Dlod Brawah yang ada di pinggir pantai dan sirkuit Mekepung di Tegal Berkis yang ada di Desa Banyubiru.
4.3       Cara Menentukan Pemenang Dalam “Makepung”
v    Mekepung di jalan adalah lomba lari kejar-kejaran yaitu apabila pasangan kerbau pepadu yang ada di depan larinya bisa meninggalkan lawannya yang ada dibelakang lebih panjang dari jarak 5 meter, maka yang di depan dinyatakan sebagai pemenangnya.
v    Apabila pasangan kerbau pepadu yang di belakang larinya bisa mendekat sampai jaraknya kurang dari 5 meter dengan pasangan kerbau pepadu di depannya maka pepadu yang di belakang, dinyatakan sebagai pemenangnya.
v    Menang dan kalah kerbau dinilai setelah kerbau tersebut mencapai garis finish.
v    Hadiah bagi pemenang Mekepung adalah berupa piala dalam bentuk Tropi dan dalam bentuk uang dalam jumlah tertentu dari Bupati Jembrana dan Gubernur Bali.
v    Piala ini ada dua jenis yaitu : Piala Bupati Cup dan Piala Gubernur Cup.

4.4       Cara Pelaksanaan Makepung
v    Kerbau pepadu yang menarik Pedati dipasang / ditempatkan berurutan di jalan yaitu ditempatkan berjajar ke belakang, jadi 1 (satu) pasang kerbau pepadu ditempatkan di depan dan 1 (satu) pasang kerbau lawannya ditaruh dibelakang, dengan jarak antara di depan dan di belakang dengan ukuran satu pedati yaitu sepanjang 5 meter.
v    Pasangan kerbau pepadu yang sudah mulai start diberi komando oleh juri berupa aba-aba : satu, dua, tiga dan pada hitungan tiga kerbau pepadu mulai lari menuju batas ujung jalan sirkuit.
v    Sampai di ujung jalan sirkuit pasangan kerbau tersebut berhenti dan istirahat, jadi tidak langsung kembali balik ke garis finish.
v    Setelah pasangan kerbau pepadu seluruhnya yang berjumlah 100 (seratus) pasang sudah dilepas, baru pasangan kerbau pepadu yang lari pertama mulai start untuk lari menarik pedati menuju garis finish, dan disinilah penentuan mana yang menang dan yang kalah.
v    Karena Mekepung dalam berlomba memakai blok (regu) maka yang menang adalah blok (regu), bukan perorangan.
v    Apabila pasangan kerbau pepadu Blok Timur (Regu Ijogading Timur) yang lebih banyak menang maka Blok Timur (Regu Ijogading Timur) dinyatakan sebagai pemenangnya.
v    Begitu pula sebaliknya berlaku bagi Blok Barat (Regu Ijogading Barat) yang lebih banyak menang maka Blok Barat (Regu Ijogading Barat) dinyatakan sebagai pemenangnya.

4.5       Teknik Yang  Digunakan Dalam “Makepung”
a.       Teknik Makepung yang dipakai pada Sirkuit tanah sawah berlumpur :
Ø    Sawah yang dipakai untuk Makepung adalah sawah yang petakannya agak luas dengan ukuran panjang 100 meter dengan lebar 50 meter.
Ø    Pasangan kerbau pepadu (Kerbau Aduan) Makepung di tempat berjajar kesamping yaitu bisa jajar tiga sampai jajar lima yang menarik bajak slau.
Ø    Garis start dan garis finish dalam istilah Mekepung disebut Penaripan, yang letaknya pada satu tempat dalam artian start disana dan finish juga disana.
Ø    Pasangan kerbau paduan yang sudah berjajar kemudian diberi komando oleh Sayo (Juri Mekepung), dengan aba-aba : satu, dua, tiga, maka pada hitungan ketiga pepadu tersebut lari berbalapan (berpacu) cepat-cepatan mengejar Penaripan (garis finish).
Ø    Lari kerbau pepadu diatur bolak balik sekaligus yaitu mulai dari start lari menuju batas ujung sawah dengan jarak 100 meter dan setelah sampai dibatas ujung sawah maka kerbau pepadu tersebut langsung lari balik menuju garis finish yang letaknya sama pada garis start.
Ø    Sehingga kerbau pepadu tersebut lari menempuh jarak bolak balik sepanjang 200 meter.
Ø    Bagi pasangan kerbau yang paling dahulu bisa mencapai Penaripan (garis finish) dinyatakan sebagi pemenang.
Ø    Hadiah bagi pemenang Mekepung berupa kebanggaan karena Atraksi Mekepung adalah atraksi hiburan bagi penggemar Mekepung.



BAB V
PENUTUP
5.1       Kesimpulan
Dari materi dan pembahasan di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa Tradisi Makepung adalah tradisi berupa lomba pacu kerbau yang telah lama melekat pada masyarakat Bali, khususnya di Kabupaten Jembrana.Tradisi Makepung atau balap kerbau, atau oleh orang bule sering disebut bullrace ini, merupakan balapan yang terdiri dari dua sampai tiga pasang kerbau jantan yang masing-masing menarik satu pedati kecil. Dalam makepung, alat untuk memukul kerbau tidak lagi menggunakan pecut atau cemeti, tetapi memakai tongkat rotan bergerigi yang terbuat dari paku-paku tajam yang ditancapkan pada rotan tersebut. Pedati yang digunakan juga bukan pedati besar seperti saat mengangkut hasil panen, melainkan pedati kecil yang hanya cukup untuk sang joki.
5.2       Saran
Ø   Para pemuda Jembrana lebih bisa untuk melestarikan tradisi makepung agar tidak punah, dan bisa terkenal sampai di luar daerah Jembrana.
Ø   Para masyarakat khususnya di daerah Jembrana bisa memahami tentang tradisi makepung, karena tradisi makepung adalah warisan yang perlu kita jaga bersama.



DAFTAR PUSTAKA
id.shvoong.com/social-sciences/1997503-rancangan-penelitian/
abdulhamid.files.wordpress.com

Mekepung Benhur Jembrana, Bali.Adang Suprapto

navigasi.net

sumber : berbagai sumber

erabaru.net

Narbuko, dkk. 2005:52
W. Gulo, 2002 dalam Eka Pradnyana






LAMPIRAN – LAMPIRAN
           








Tidak ada komentar:

Posting Komentar