BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Tradisi makepung merupakan suatu aset budaya bangsa
yang patut kita lestarikan khususnya di Kabupaten Jembrana Bali.
Hal tersebut dikarenakan tradisi makepung akan cepat
tenggelam jika pemerintah ataupun masyarakat meninggalkan tradisi tradisional
itu, karena adanya kemajuan di bidang teknologi yang dapat menyaingi tradisi
makepung.
Selain itu , tradisi tersebut itu bisa punah, bahkan
Kabupaten Jembrana yang dikenal sebagai bumi makepung juga akan mulai memudar
kemasyurannya sedikit demi sedikit.
Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat khususnya
Kaupaten Jembrana patut menjaga dan melestarikan tradisi tersebut. Bahkan kalau
bisa di kembangkan sampai dikenal dikalangan mancanegara.
Karena hal tersebut bisa mendatangkan banyak
wisatawan baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri, jika hal tersebut
berhasil, maka Kabupaten Jembrana akan semakin dikenal oleh dunia dan dapat
meningkatkan perekonomian di Kabupaten Jembrana.
1.2 Rumusan
Permasalahan
Berdasarkan penelitian yang telah saya lakukan, maka
adapun beberapa permasalahan yang dapat penulis angkat adalah sebagai berikut :
1. Apa
itu “Makepung” ?
2. Kapan
saja diadakannya perlombaan “Makepung” ?
3. Bagaimana
cara menentukan pemenang dalam prlombaan “Makepung” ?
4. Bagaimana
cara melaksanakan “Makepung” ?
5. Teknik
apa saja yang digunakan dalam “Makepung” ?
1.3 Tujuan
Penelitian
Berdasarkan penelitian yang telah saya lakukan, maka
adapun tujuan dari penelitian ini yaitu sebagai berikut :
1. Untuk
mengetahui apakah yang dimaksud dengan tradisi “Makepung” yang ada di daerah
Jembrana.
2. Untuk
mengetahui kapan dan dimana perlombaan makepung bisa dilakukan.
3. Untuk
mengetahui cara menentukan pemenang dalam perlombaan “Makepung”.
4. Untuk
mengetahui bagaimana tata cara dalam perlombaan “Makepung”.
5. Untuk
mengetahui teknik – teknik didalam perlombaan “Makepung”.
1.4 Manfaat Penelitian
Berdasarkan penelitian yang telah saya lakukan, maka
adapun manfaat dari penelitian ini yaitu sebagai berikut :
1. membantu
masyarakat bagaimana sejarah dari tradisi “Makepung”.
2. Agar
masyarakat khususnya di Daerah Jembrana bisa melestarikan tradisi makepung supaya
tidak hilang.
3. Agar
masyarakat khususnya di Daerah Jembrana tetap melaksanakan tradisi makepung.
1.5 Hipotesis
Penelitian
Seperti kita
ketahui “Tradisi Makepung” telah kita kenal dari dulu saat mereka “Mekajang” (mengangkut hasil panen dari sawah ke
rumah). Saat berangkat ke sawah, pedati yang belum terisi muatan hasil panen
akan terasa lebih ringan ditarik oleh pasangan kerbau tersebut. Di sinilah sang
kusir pedati mulai saling memacu kerbaunya hingga iring-iringan tersebut
berubah menjadi ajang balap pedati menuju ke lokasi panen. Balapan pedati pasca
panen inilah yang kemudian menginspirasi adanya “Tradisi Makepung”di Jembrana. Namun
dalam makepung, alat untuk memukul kerbau tidak lagi menggunakan pecut atau
cemeti, tetapi memakai tongkat rotan bergerigi yang terbuat dari paku-paku
tajam yang ditancapkan pada rotan tersebut. Pedati yang digunakan juga bukan
pedati besar seperti saat mengangkut hasil panen, melainkan pedati kecil yang
hanya cukup untuk sang joki.
BAB II
KAJIAN
PUSTAKA
Makepung atau balap kerbau, atau oleh orang
bule sering disebut bullrace ini, merupakan balapan yang terdiri dari
dua sampai tiga pasang kerbau jantan yang masing-masing menarik satu pedati
kecil. Menurut kata sesepuh di daerah saya, tradisi ini bermula dari kegiatan
nenek moyang jaman dulu saat mereka mekajang (mengangkut hasil panen
dari sawah ke rumah).
Saat
berangkat ke sawah, pedati yang belum terisi muatan hasil panen akan terasa
lebih ringan ditarik oleh pasangan kerbau tersebut. Di sinilah sang kusir
pedati mulai saling memacu kerbaunya hingga iring-iringan tersebut berubah
menjadi ajang balap pedati menuju ke lokasi panen. Balapan pedati pasca panen
inilah yang kemudian menginspirasi adanya tradisi makepung di Jembrana.
Namun dalam makepung, alat untuk memukul kerbau tidak lagi
menggunakan pecut atau cemeti, tetapi memakai tongkat rotan bergerigi yang
terbuat dari paku-paku tajam yang ditancapkan pada rotan tersebut. Pedati yang
digunakan juga bukan pedati besar seperti saat mengangkut hasil panen,
melainkan pedati kecil yang hanya cukup untuk sang joki.
BAB
III
METODOLOGI
3.1 Pendekatan Dan Jenis Penelitian
1. Pendekatan dengan cara mewawancarai
narasumber dan menggunakan metode wawancara serta mencatat informasi yang
peneliti amati selama penelitian.
2. Jenis Penelitian dengan metodo observasi
dan metodo wawancara.
3.2 Kehadiran Penelitian
Peneliti yang meneliti tentang “Tradisi
Makepung” di Jembrana hanya satu orang yaitu :
Nama : I PUTU PRANG WIPRAJA
Kelas : XII BAHASA
NIS : 1187
3.3
Lokasi
Penelitian
Lokasi penelitian
menunjukkan pada pengertian lokasi situasi kebudayaan, yang dicirikan oleh adanya tiga unsur antara lain;
tempat, seni, dan kegiatan. Jadi dengan demikian yang dimaksud lokasi
penelitian disini adalah (1) dari unsur tempat, yang merupakan lokasi
berlangsungnya penelitian yakni di desa pakraman Delod Brawah, Kecamatan
Mendoyo Kabupaten Jembrana. (2) unsur seni, yang
merupakan bentuk seni dalam kebudayan. (3) unsur kegiatan dimaksudkan prosesi “Tradisi
Makepung” di desa Delod Brawah.
Penelitian
terhadap “Tradisi Makepung” ini peneliti mengambil lokasi di desa Delod
Brawah, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana. Desa ini dipilih dengan alasan dan pertimbangan,
setelah mengamati pelaksanaan Makepung tersebut yang dilakukan secara turun temurun.
3.4
Rencana
Tindakan
1. Memilih masalah,
2. Merumuskan masalah,
3. Merumuskan anggapan dasar,
4. Memilih pendekatan,
5. Menentukan sumber data,
6. Menentukan dan menyusun instrument,
7. Mengumpulkan data,
8. Analisis data,
9. Menarik kesimpulan,
10. Membuat karya ilmiah.
3.5
Pengumpulan
Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan
beberapa metode yaitu; metode observasi,
metode wawancara, metode pencatatan dokumen.
A. Metode
Observasi
Metode observasi adalah metode pengumpulan data di mana
peneliti mencatat informasi sebagaimana yang peneliti amati selama penelitian.
Penggunaan metode observasi difokuskan pada pengamatan terhadap pelaksanaan tradisi
“Makepung”. Metode observasi
merupakan alat pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan
mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diamati. Pengamatan ini diikuti
dengan pencatatan segala hal yang dianggap penting untuk menunjang penelitian.
Pengamatan (observasi) adalah teknik pengumpulan data di mana peneliti mencatat
informasi sebagaimana yang mereka saksikan selama penelitian. Penyaksian
terhadap peristiwa-peristiwa itu bisa dengan melihat, mendengar dan merasakan,
yang kemudian seobyektif mungkin.
B. Metode
Wawancara
Teknik
wawancara atau interviewer dapat dilakukan melalui dua cara yaitu
1.
Interview
Bersetruktur
Interview berstruktur merupakan interview yang di
mana peneliti ketika melaksanakan tatap muka dengan responden menggunakan
pedoman wawancara yang telah disiapkan terlebih dahulu.
2.
Interview
Mendalam
Interview mendalam merupakan suatu cara mengumpulkan data
atau informasi dengan cara langsung bertatap muka dengan informan, dengan
maksud mendapatkan gambaran lengkap tentang topik yang diteliti. Wawancara
mendalam dilakukan terhadap orang-orang yang dianggap tahu dan menguasai
permasalahan yang hendak diteliti. Untuk mengarahkan kegiatan wawancara ini
dipergunakan pedoman wawancara. Wawancara mendalam dalam penelitian ini
dilakukan terhadap beberapa informan, yaitu; (Bendesa Adat, dan orang yang
melakukan tradisi “Makepung). Wawancara mendalam dilakukan secara intensif dan
berulang-ulang. Pada penelitian kualitatif, wawancara mendalam menjadi alat
utama yang dikombinasikan dengan observasi partisipasi. Wawancara yang
dilakukan secara bebas, bebas dalam artian tidak berstruktur
pertanyaan-pertanyaan yang akan disajikan.
Dalam penelitian ini yang menjadi pihak pewawancara
adalah peneliti sendiri yang akan mengajukan beberapa pertanyaan yang terkait
dengan tradisi
“Makepung” yang dilaksanakan
oleh warga desa Delod Brawah. Sedangkan yang menjadi pihak responden atau yang
diwawancarai adalah para tokoh masyarakat desa Delod Brawah, warga yang melaksanakan tradisi
“Makepung”.
3.6 Indikator
Kerja
Ø Dapat
mengerti tentang tata cara melaksanakan tradisi “Makepung”.
Ø Dapat
memahami bagaimana cara melestarikan tradisi “Makepung”.
Ø Dapat
menjaga tradisi “Makepung” dan bisa memperkenalkan tradisi “Makepung” secara
luas.
BAB IV
PAPARAN DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 Pengertian
Makepung
Kabupaten
Jembrana adalah Kabupaten yang terletak di Bali Barat, masyarakatnya adalah
agraris yang terkenal dengan organisasi yang disebut Subak yaitu organisasi
yang mengatur tentang pengairan di sawah. Masyarakat petani dalam melakukan
aktifitas pertanian di sawah dengan memanfaatkan alat-alat tradisional yang
paling populer disebut bajak. Dalam pengolahan tanah dibagi dalam
tahapan-tahapan kegiatan yaitu untuk menggemburkan tanah memakai bajak tenggala.
Untuk
membersihkan tanah dari gulma-gulma memakai bajak jangkar, untuk melumatkan
tanah menjadi lumpur memakai bajak lampit slau, dan terakhir untuk menghaluskan
tanah memakai bajak plasah.Setelah permukaan tanah lumpur tersebut halus baru
ditanami padi bulih (tanaman pohon padi yang masih muda), yang mana dalam
proses aktifitas pertanian di sawah ini masyarakat Bali menerapkan sistim kerja
ngajakan (kerja gotong royong/bekerja saling bantu membantu tanpa imbalan
jasa). Untuk menarik bajak ini dipakai kerbau dua ekor berpasangan, yang
dituntun oleh seorang Sais / Joki yang duduk di atas bajak tersebut.
Makepung yang dalam bahasa Indonesia berarti
berkejar-kejaran, adalah tradisi berupa lomba pacu kerbau yang telah lama
melekat pada masyarakat Bali, khususnya di Kabupaten Jembrana. Makepung atau balap kerbau, atau oleh orang
bule sering disebut bullrace ini, merupakan balapan yang terdiri dari
dua sampai tiga pasang kerbau jantan yang masing-masing menarik satu pedati
kecil.Menurut kata sesepuh di daerah saya, tradisi ini bermula dari kegiatan
nenek moyang jaman dulu saat mereka mekajang (mengangkut hasil panen
dari sawah ke rumah).
Saat berangkat ke sawah, pedati yang
belum terisi muatan hasil panen akan terasa lebih ringan ditarik oleh pasangan
kerbau tersebut. Di sinilah sang kusir pedati mulai saling memacu kerbaunya
hingga iring-iringan tersebut berubah menjadi ajang balap pedati menuju ke
lokasi panen. Balapan pedati pasca panen inilah yang kemudian menginspirasi
adanya tradisi makepung di Jembrana.
Dalam makepung, alat untuk memukul
kerbau tidak lagi menggunakan pecut atau cemeti, tetapi memakai tongkat rotan
bergerigi yang terbuat dari paku-paku tajam yang ditancapkan pada rotan
tersebut. Pedati yang digunakan juga bukan pedati besar seperti saat mengangkut
hasil panen, melainkan pedati kecil yang hanya cukup untuk sang joki.
4.2 Diadakannya
Makepung
Atraksi
Mekepung dilaksanakan setiap hari Minggu dan dapat disaksikan mulai dari bulan
Juni sampai dengan bulan Oktober yaitu berupa latihan dan sepuluh kali pertandingan
dalam bentuk pertandingan lokal, pertandingan perebutan piala Bupati Cup (Bulan
Agustus) dan pertandingan perebutan Piala Gubernur Cup (Bulan Oktober).
Sirkuit
Mekepung di jalan yang ada di sawah untuk pertandingan lokal ada di Dlod
Brawah, Mertasari Loloan Timur, Tegal Berkis Desa Banyubiru, Temuku Aya Desa
Tegalcangkring dan Kaliakah.
Sedangkan
sirkuit Mekepung untuk pertandingan Bupati Cup dan Gubernur Cup ada di sirkuit
Mekepung Desa Dlod Brawah yang ada di pinggir pantai dan sirkuit Mekepung di
Tegal Berkis yang ada di Desa Banyubiru.
4.3 Cara
Menentukan Pemenang Dalam “Makepung”
v Mekepung di jalan adalah lomba lari
kejar-kejaran yaitu apabila pasangan kerbau pepadu yang ada di depan larinya
bisa meninggalkan lawannya yang ada dibelakang lebih panjang dari jarak 5
meter, maka yang di depan dinyatakan sebagai pemenangnya.
v Apabila pasangan kerbau pepadu yang
di belakang larinya bisa mendekat sampai jaraknya kurang dari 5 meter dengan
pasangan kerbau pepadu di depannya maka pepadu yang di belakang, dinyatakan
sebagai pemenangnya.
v Menang dan kalah kerbau dinilai
setelah kerbau tersebut mencapai garis finish.
v Hadiah bagi pemenang Mekepung adalah
berupa piala dalam bentuk Tropi dan dalam bentuk uang dalam jumlah tertentu
dari Bupati Jembrana dan Gubernur Bali.
v Piala ini ada dua jenis yaitu :
Piala Bupati Cup dan Piala Gubernur Cup.
4.4 Cara Pelaksanaan Makepung
v Kerbau pepadu yang menarik Pedati
dipasang / ditempatkan berurutan di jalan yaitu ditempatkan berjajar ke
belakang, jadi 1 (satu) pasang kerbau pepadu ditempatkan di depan dan 1 (satu)
pasang kerbau lawannya ditaruh dibelakang, dengan jarak antara di depan dan di
belakang dengan ukuran satu pedati yaitu sepanjang 5 meter.
v Pasangan kerbau pepadu yang sudah
mulai start diberi komando oleh juri berupa aba-aba : satu, dua, tiga dan pada
hitungan tiga kerbau pepadu mulai lari menuju batas ujung jalan sirkuit.
v Sampai di ujung jalan sirkuit
pasangan kerbau tersebut berhenti dan istirahat, jadi tidak langsung kembali
balik ke garis finish.
v Setelah pasangan kerbau pepadu
seluruhnya yang berjumlah 100 (seratus) pasang sudah dilepas, baru pasangan
kerbau pepadu yang lari pertama mulai start untuk lari menarik pedati menuju
garis finish, dan disinilah penentuan mana yang menang dan yang kalah.
v Karena Mekepung dalam berlomba
memakai blok (regu) maka yang menang adalah blok (regu), bukan perorangan.
v Apabila pasangan kerbau pepadu Blok
Timur (Regu Ijogading Timur) yang lebih banyak menang maka Blok Timur (Regu
Ijogading Timur) dinyatakan sebagai pemenangnya.
v Begitu pula sebaliknya berlaku bagi
Blok Barat (Regu Ijogading Barat) yang lebih banyak menang maka Blok Barat
(Regu Ijogading Barat) dinyatakan sebagai pemenangnya.
4.5 Teknik Yang Digunakan Dalam “Makepung”
a. Teknik Makepung yang dipakai pada
Sirkuit tanah sawah berlumpur :
Ø Sawah yang dipakai untuk Makepung
adalah sawah yang petakannya agak luas dengan ukuran panjang 100 meter dengan
lebar 50 meter.
Ø Pasangan kerbau pepadu (Kerbau
Aduan) Makepung di tempat berjajar kesamping yaitu bisa jajar tiga sampai jajar
lima yang menarik bajak slau.
Ø Garis start dan garis finish dalam
istilah Mekepung disebut Penaripan, yang letaknya pada satu tempat dalam artian
start disana dan finish juga disana.
Ø Pasangan kerbau paduan yang sudah
berjajar kemudian diberi komando oleh Sayo (Juri Mekepung), dengan aba-aba :
satu, dua, tiga, maka pada hitungan ketiga pepadu tersebut lari berbalapan
(berpacu) cepat-cepatan mengejar Penaripan (garis finish).
Ø Lari kerbau pepadu diatur bolak
balik sekaligus yaitu mulai dari start lari menuju batas ujung sawah dengan
jarak 100 meter dan setelah sampai dibatas ujung sawah maka kerbau pepadu
tersebut langsung lari balik menuju garis finish yang letaknya sama pada garis
start.
Ø Sehingga kerbau pepadu tersebut lari
menempuh jarak bolak balik sepanjang 200 meter.
Ø Bagi pasangan kerbau yang paling
dahulu bisa mencapai Penaripan (garis finish) dinyatakan sebagi pemenang.
Ø Hadiah bagi pemenang Mekepung berupa
kebanggaan karena Atraksi Mekepung adalah atraksi hiburan bagi penggemar
Mekepung.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari materi dan pembahasan di atas, penulis dapat
menyimpulkan bahwa Tradisi Makepung adalah tradisi berupa lomba pacu kerbau
yang telah lama melekat pada masyarakat Bali, khususnya di Kabupaten Jembrana.Tradisi
Makepung atau balap kerbau, atau oleh orang
bule sering disebut bullrace ini, merupakan balapan yang terdiri dari
dua sampai tiga pasang kerbau jantan yang masing-masing menarik satu pedati
kecil. Dalam makepung, alat untuk memukul kerbau tidak lagi menggunakan pecut
atau cemeti, tetapi memakai tongkat rotan bergerigi yang terbuat dari paku-paku
tajam yang ditancapkan pada rotan tersebut. Pedati yang digunakan juga bukan
pedati besar seperti saat mengangkut hasil panen, melainkan pedati kecil yang
hanya cukup untuk sang joki.
5.2 Saran
Ø Para pemuda Jembrana lebih bisa
untuk melestarikan tradisi makepung agar tidak punah, dan bisa terkenal sampai
di luar daerah Jembrana.
Ø Para masyarakat khususnya di daerah
Jembrana bisa memahami tentang tradisi makepung, karena tradisi makepung adalah
warisan yang perlu kita jaga bersama.
DAFTAR
PUSTAKA
id.shvoong.com/social-sciences/1997503-rancangan-penelitian/
abdulhamid.files.wordpress.com
Mekepung Benhur Jembrana,
Bali.Adang Suprapto
navigasi.net
sumber : berbagai sumber
erabaru.net
Narbuko,
dkk. 2005:52
W.
Gulo, 2002 dalam Eka Pradnyana
LAMPIRAN – LAMPIRAN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar